Bukan Lagi Tentang Menjadi Dewasa

RBN || Jakarta

Seseorang yang dulu menyusun daftar panjang tentang apa yang harus dicapai sebelum usia tertentu, kini mendapati dirinya lebih sering bertanya, dengan siapa aku ingin menghabiskan waktu sore ini, dibanding bertanya, target apa yang belum tercapai tahun ini. Pergeseran semacam ini tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, sering kali tanpa disadari, seiring bertambahnya usia dan berubahnya cara seseorang memandang waktu yang tersisa.

Psikolog Laura Carstensen dari Stanford University, yang meneliti bagaimana persepsi waktu memengaruhi prioritas hidup manusia, mengembangkan teori yang dikenal sebagai selektivitas sosioemosional. Menurutnya, ketika seseorang merasa waktu ke depan masih terasa panjang dan terbuka, ia cenderung mengejar tujuan yang berorientasi masa depan, seperti memperluas jaringan, mengumpulkan pengetahuan baru, atau mengejar berbagai peluang. Namun ketika cakrawala waktu mulai terasa lebih terbatas, entah karena usia atau pengalaman hidup, prioritas bergeser ke arah makna dan kedekatan emosional dengan orang-orang yang benar-benar berarti.

Pergeseran ini menjelaskan mengapa banyak orang, semakin bertambah usia, semakin selektif memilih dengan siapa mereka menghabiskan waktu, semakin jarang tertarik pada perdebatan yang tidak penting, dan semakin fokus pada hal-hal yang benar-benar memberi ketenangan. Ini bukan tanda kehilangan semangat, melainkan tanda kematangan dalam menentukan apa yang layak diberi perhatian dan apa yang tidak.

Kedewasaan, dalam pengertian ini, bukan lagi soal mencapai daftar pencapaian yang dianggap ideal oleh masyarakat, seperti memiliki karier mapan, menikah pada usia tertentu, atau memiliki rumah sebelum usia tiga puluh. Kedewasaan yang sesungguhnya lebih dekat dengan kemampuan mengenali apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri, meski itu berbeda dari jalur yang ditempuh kebanyakan orang.

Banyak orang menghabiskan bertahun-tahun mengejar gambaran hidup yang dianggap sempurna, hanya untuk menyadari di kemudian hari bahwa gambaran tersebut sebenarnya bukan miliknya sendiri, melainkan harapan yang ditanamkan oleh lingkungan sekitar. Menyadari hal ini bisa terasa melegakan sekaligus membingungkan, sebab seseorang harus mulai menyusun ulang apa yang sebenarnya ia inginkan, tanpa lagi mengandalkan daftar yang selama ini dianggap baku.

Perubahan prioritas ini juga terlihat dalam cara seseorang memandang hubungan. Semakin waktu terasa berharga, semakin besar pula kecenderungan untuk menjaga hubungan yang benar-benar memberi ketenangan, dan semakin kecil toleransi terhadap hubungan yang hanya menguras energi tanpa memberi timbal balik yang berarti. Ini bukan bentuk sikap pilih-pilih yang egois, melainkan bentuk kejujuran terhadap keterbatasan waktu dan energi yang dimiliki setiap orang.

Menariknya, pergeseran fokus menuju makna dan kedekatan ini tidak hanya terjadi pada orang lanjut usia. Penelitian Carstensen menunjukkan bahwa siapa pun, pada usia berapa pun, dapat mengalami pergeseran serupa ketika dihadapkan pada pengalaman yang membuat waktu terasa terbatas, seperti pemulihan dari sakit berat, kehilangan orang tersayang, atau perubahan besar dalam hidup yang memaksa seseorang menilai ulang prioritasnya.

Belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana adalah bagian penting dari proses ini. Penerimaan bukan berarti berhenti berusaha, melainkan berhenti menghabiskan energi untuk melawan kenyataan yang sudah terjadi. Seseorang dapat menerima bahwa kariernya belum sesuai harapan sambil tetap mencari peluang baru, dapat menerima berakhirnya sebuah hubungan tanpa menganggap dirinya gagal mencintai, dan dapat mengakui kesalahan masa lalu tanpa terus-menerus menghukum dirinya sendiri.

Bertambahnya usia bukan sekadar soal menjadi lebih dewasa menurut standar yang dibuat orang lain. Ia lebih tentang belajar mengenali apa yang benar-benar berharga bagi diri sendiri, memberi ruang bagi kesalahan tanpa terus-menerus menghukum diri karenanya, dan memilih dengan lebih sadar ke mana waktu dan perhatian yang tersisa layak dicurahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *