RBN || Jakarta
Ada semacam dorongan alami ketika seseorang tersakiti ingin membuat pihak yang menyakiti merasakan hal yang sama. Rasanya seolah keadilan baru terasa lengkap kalau orang itu ikut menanggung pedih yang sama. Tapi semakin sering dorongan itu dituruti, semakin jelas pula bahwa pembalasan jarang benar-benar menyembuhkan. Ia hanya memindahkan luka, bukan menghapusnya.
Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa membalas adalah bentuk ketegasan, sementara diam dianggap tanda lemah. Padahal keduanya tidak selalu berbanding lurus. Ada orang yang memilih diam bukan karena tidak mampu melawan, melainkan karena ia sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa tidak semua serangan layak ditanggapi dengan serangan balik.
Membalas sering terasa memuaskan di awal. Ada rasa lega sesaat ketika berhasil membuat orang lain merasakan kekecewaan yang sama. Namun kelegaan itu biasanya berumur pendek. Setelahnya, yang tersisa adalah rasa hampa, bahkan terkadang rasa bersalah yang baru, karena diam-diam seseorang sadar bahwa ia baru saja menjadi versi dari orang yang pernah menyakitinya.
Melukai balik juga punya cara diam-diam mengikat seseorang pada masa lalu. Selama pikiran masih sibuk menyusun cara untuk membalas, selama itu pula perhatian masih tertuju pada orang yang menyakiti, bukan pada kehidupan sendiri yang seharusnya terus berjalan. Dendam, tanpa disadari, menjadikan pelaku tetap menempati ruang penting dalam pikiran korban jauh setelah peristiwa itu berlalu.
Berhenti membalas bukan berarti membiarkan diri terus disakiti tanpa batas. Ada perbedaan besar antara tidak membalas dan tidak melindungi diri. Seseorang tetap berhak menetapkan batas, menjauh, bahkan memutus hubungan sepenuhnya. Yang tidak diperlukan hanyalah niat untuk ikut menyakiti sebagai balasan.
Ada ketenangan tersendiri ketika seseorang memilih tidak menurunkan dirinya ke level yang sama dengan orang yang menyakitinya. Bukan karena merasa lebih baik atau lebih suci, tetapi karena ia paham bahwa energi untuk membalas sesungguhnya bisa dipakai untuk hal yang jauh lebih berarti memulihkan diri sendiri.
Pemulihan sering kali tidak seramai yang dibayangkan. Ia tidak selalu berupa konfrontasi besar atau permintaan maaf yang mengharukan. Kadang pemulihan hanya berbentuk keputusan kecil yang diulang setiap hari, seperti memilih untuk tidak membalas pesan yang memancing amarah, atau memilih untuk berhenti menceritakan luka yang sama kepada orang yang berbeda.
Ada juga anggapan keliru bahwa memaafkan berarti menyerah, padahal memaafkan justru sering menjadi bentuk perlawanan yang paling halus. Dengan memaafkan, seseorang menolak untuk terus dikendalikan oleh peristiwa menyakitkan itu. Ia mengambil alih kembali kendali atas hidupnya, alih-alih menyerahkannya pada dendam yang tidak pernah benar-benar memuaskan.
Tentu, memilih untuk tidak membalas bukan berarti berpura-pura baik-baik saja. Marah tetap boleh dirasakan, kecewa tetap sah untuk diakui. Yang perlu dijaga hanyalah agar emosi itu tidak berubah menjadi tindakan yang justru menambah luka baru, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Keputusan untuk tidak membalas luka dengan luka bukan soal siapa yang menang atau kalah. Ini soal memilih untuk tidak ikut menambah luka di dunia yang sudah cukup penuh dengan luka. Ketika seseorang berhenti dari siklus saling menyakiti, ia sedang memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk benar-benar pulih, bukan sekadar berhenti berperang.











