Jerat Perbandingan Diri, Ketika Hidup Orang Lain Terasa Selalu Lebih Baik

  • Share
Ilustrasi

RBN || Jakarta

Hampir setiap orang pernah menggulir linimasa dan tiba-tiba merasa hidupnya kurang berarti. Teman sebaya sudah memiliki rumah sendiri, kolega baru saja dipromosikan, kenalan lama tampak menikmati liburan yang mewah, sementara diri sendiri masih berkutat dengan masalah yang sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Perasaan tertinggal ini muncul begitu cepat, meski sebenarnya tidak ada yang benar-benar berubah dari kehidupan sendiri sebelum membuka aplikasi tersebut.

Kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain bukanlah hal baru. Psikolog sosial Leon Festinger, melalui teori perbandingan sosial yang ia kembangkan pada pertengahan abad ke-20, menjelaskan bahwa manusia secara alami menilai kemampuan dan pencapaiannya dengan cara membandingkan diri terhadap orang lain, terutama ketika tidak ada ukuran objektif yang tersedia untuk menilai posisinya sendiri.

Di masa lalu, perbandingan semacam ini terbatas pada lingkungan terdekat, seperti tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja. Kini, media sosial memperluas cakupan perbandingan tersebut hingga tak terbatas, menghadirkan kehidupan ribuan orang dari berbagai penjuru dunia ke dalam genggaman tangan, tanpa memberi jeda untuk memilah mana yang relevan dan mana yang hanya menambah beban pikiran.

Persoalan utama dari perbandingan ini terletak pada apa yang dibandingkan. Seseorang cenderung membandingkan sisi tergelap dari kehidupannya sendiri dengan sisi paling terang dari kehidupan orang lain yang tampil di layar. Foto liburan, pencapaian karier, atau momen bahagia yang diunggah jarang menyertakan cerita tentang kesulitan, keraguan, atau perjuangan yang menyertainya.

Perbandingan yang terus-menerus dapat mengikis rasa syukur terhadap apa yang telah dimiliki. Pencapaian yang sebelumnya terasa membanggakan dapat tiba-tiba terasa kecil, hanya karena muncul pencapaian serupa milik orang lain yang tampak lebih besar. Standar kebahagiaan pun bergeser terus-menerus, mengikuti apa yang terlihat di layar, bukan berdasarkan kebutuhan dan nilai yang sebenarnya penting bagi diri sendiri.

Dampak dari kebiasaan ini dapat terlihat pada menurunnya rasa percaya diri, munculnya kecemasan tentang pencapaian hidup, hingga kesulitan menikmati momen yang sedang dijalani karena pikiran terus disibukkan oleh apa yang belum dimiliki dibandingkan orang lain. Dalam jangka panjang, perbandingan yang berlebihan dapat berkontribusi pada perasaan tidak pernah cukup, meski dari luar hidup seseorang sebenarnya berjalan baik.

Perbandingan sosial tidak selalu berdampak negatif. Dalam kadar yang wajar, melihat pencapaian orang lain dapat menjadi motivasi untuk berkembang, memberi gambaran tentang kemungkinan yang dapat dicapai, atau menginspirasi langkah baru. Persoalan muncul ketika perbandingan tersebut dilakukan tanpa henti, tanpa konteks yang jelas, dan tanpa disertai kesadaran bahwa apa yang terlihat hanyalah sepotong kecil dari keseluruhan cerita seseorang.

Mengenali pemicu perbandingan menjadi langkah awal yang penting. Menyadari platform, akun, atau jenis konten tertentu yang sering memicu perasaan tidak berharga dapat membantu seseorang lebih selektif dalam memilih apa yang ingin ia konsumsi setiap harinya, tanpa harus sepenuhnya menjauh dari media sosial.

Mengalihkan fokus dari pencapaian orang lain menuju perkembangan diri sendiri dari waktu ke waktu dapat membantu meredakan tekanan akibat perbandingan. Menilai kemajuan berdasarkan posisi diri sendiri di masa lalu, bukan berdasarkan posisi orang lain saat ini, memberi ukuran yang jauh lebih adil dan relevan terhadap perjalanan hidup masing-masing orang.

Melatih rasa syukur terhadap hal-hal kecil juga dapat membantu menyeimbangkan kecenderungan untuk selalu melihat kekurangan. Mencatat pencapaian atau momen baik yang dialami setiap hari, sekecil apa pun itu, dapat perlahan mengubah kebiasaan pikiran yang terlalu sering tertuju pada apa yang belum dimiliki.

Mengingat bahwa setiap orang berjalan dengan kecepatan dan jalur yang berbeda juga menjadi pengingat penting. Pencapaian yang datang lebih lambat bukan berarti kegagalan, sebab perjalanan hidup tidak pernah benar-benar dapat disejajarkan satu sama lain, meski usia atau latar belakang tampak serupa di permukaan.

Kehidupan yang bermakna tidak diukur dari seberapa jauh seseorang tertinggal atau unggul dibandingkan orang lain, melainkan dari sejauh mana ia mampu menghargai perjalanannya sendiri. Melepaskan diri dari jerat perbandingan bukan berarti berhenti melihat dunia luar, tetapi belajar kembali menaruh perhatian pada kehidupan sendiri dengan cara yang lebih jujur dan tenang.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *