Gaslighting, Ketika Kenyataan Sendiri Mulai Diragukan

  • Share
Ilustrasi

RBN || Jakarta

Ada bentuk manipulasi yang tidak meninggalkan bekas fisik, namun perlahan mengikis kepercayaan seseorang terhadap ingatan dan penilaiannya sendiri. Bentuk manipulasi ini dikenal sebagai gaslighting, sebuah pola di mana seseorang secara berulang membuat pihak lain meragukan apa yang sebenarnya ia lihat, dengar, dan rasakan, hingga kenyataan yang paling jelas sekalipun mulai terasa tidak pasti.

Gaslighting sering muncul dalam kalimat sederhana yang terdengar biasa saja. “Kamu terlalu sensitif”, “itu tidak pernah terjadi”, atau “kamu yang salah ingat” adalah beberapa contoh ungkapan yang, jika diucapkan sesekali, mungkin tidak berarti apa-apa. Namun ketika diucapkan berulang kali dalam berbagai situasi, kalimat tersebut perlahan menanamkan keraguan terhadap kemampuan seseorang menilai kejadian di sekitarnya.

Psikolog Robin Stern dari Teachers College, Columbia University, yang menulis secara mendalam tentang pola ini, menjelaskan bahwa gaslighting berbeda dari sekadar perbedaan pendapat atau kesalahpahaman biasa. Ciri utamanya adalah pengulangan yang konsisten, di mana satu pihak terus-menerus menolak realitas pihak lain hingga korban mulai bergantung pada penilaian pelaku untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Pola ini dapat muncul dalam berbagai jenis hubungan, mulai dari hubungan romantis, keluarga, pertemanan, hingga lingkungan kerja. Pelaku tidak selalu menyadari niat jahat di balik tindakannya, sebagian bahkan meyakini dirinya benar. Namun terlepas dari niat tersebut, dampak yang dirasakan korban tetap sama, yaitu kebingungan yang terus tumbuh terhadap kemampuannya sendiri dalam membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.

Salah satu tanda awal gaslighting adalah kebiasaan meminta maaf secara berlebihan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahan. Seseorang yang mengalami gaslighting sering kali mulai ragu menyampaikan pendapatnya sendiri, karena khawatir kembali dianggap terlalu berlebihan atau salah memahami keadaan. Lambat laun, ia lebih memilih diam daripada mempertahankan apa yang sebenarnya ia yakini benar.

Gaslighting juga kerap disertai dengan penyangkalan terhadap fakta yang jelas. Percakapan yang sudah terjadi dibantah pernah ada, janji yang telah diucapkan disangkal, atau bukti nyata diabaikan begitu saja. Ketika hal ini terjadi berulang kali, korban mulai kehilangan pegangan terhadap ingatannya sendiri, bahkan mulai mencatat atau merekam percakapan hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia ingat memang benar terjadi.

Dampak psikologis dari gaslighting dapat berlangsung lama, bahkan setelah hubungan tersebut berakhir. Kepercayaan diri yang terkikis membuat seseorang menjadi terlalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, selalu mencari validasi sebelum meyakini pendapatnya sendiri, atau merasa cemas berlebihan saat harus mempertahankan sudut pandang di hadapan orang lain, meski dalam situasi yang sebenarnya tidak berbahaya.

Salah satu cara paling penting untuk melawan pengaruh gaslighting adalah dengan mempercayai kembali ingatan dan perasaan sendiri. Mencatat kejadian penting, menyimpan bukti percakapan, atau berbicara dengan orang lain yang dipercaya dapat membantu seseorang memastikan bahwa penilaiannya terhadap suatu keadaan tidaklah keliru, meski pihak lain terus berusaha meyakinkan sebaliknya.

Mengenali pola ini sejak dini juga penting agar seseorang tidak semakin terjebak. Ketika suatu hubungan membuat seseorang terus-menerus meragukan dirinya sendiri, merasa selalu bersalah tanpa alasan jelas, atau kehilangan kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri, hal tersebut layak dijadikan sinyal untuk berhenti sejenak dan menilai ulang hubungan tersebut secara lebih jujur.

Berbicara dengan orang di luar hubungan yang bermasalah dapat memberi perspektif yang lebih jernih. Orang-orang yang tidak terlibat langsung sering kali mampu melihat pola yang sulit dikenali oleh pihak yang berada di dalamnya, sebab mereka tidak terikat oleh rasa sayang, rasa bersalah, atau ketergantungan emosional yang dapat mengaburkan penilaian.

Menetapkan batas juga menjadi langkah penting dalam menghadapi gaslighting. Seseorang berhak menyatakan bahwa ingatan dan perasaannya valid, tanpa harus terus-menerus membuktikannya kepada pihak yang memang tidak berniat mengakuinya. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan, sebab tujuan utamanya bukan mengubah pandangan pelaku, melainkan menjaga kejernihan pikiran diri sendiri.

Dalam beberapa kasus, menjauh dari hubungan yang penuh dengan pola ini menjadi pilihan yang paling sehat, terutama ketika upaya berbicara secara terbuka tidak membawa perubahan apa pun. Memilih untuk pergi bukan tanda kekalahan, melainkan bentuk perlindungan diri terhadap pola yang terus-menerus merusak kepercayaan seseorang pada dirinya sendiri.

Pemulihan dari pengalaman gaslighting membutuhkan waktu, sebab kepercayaan terhadap diri sendiri yang telah lama terkikis tidak dapat pulih dalam sekejap. Proses ini dapat dibantu dengan kembali membangun kebiasaan kecil, seperti mempercayai penilaian sendiri terhadap hal-hal sederhana, sebelum perlahan memperluasnya pada keputusan yang lebih besar.

Dukungan dari terapis atau orang terdekat yang dapat dipercaya juga sangat membantu dalam proses pemulihan ini. Berbicara secara terbuka tentang pengalaman yang telah dilalui dapat membantu seseorang menyusun kembali pemahaman yang utuh tentang dirinya sendiri, setelah sekian lama dibuat meragukan kenyataan yang sebenarnya jelas di depan mata.

Kenyataan seseorang tidak pernah seharusnya bergantung pada persetujuan orang lain untuk dianggap benar. Ingatan, perasaan, dan penilaian yang dimiliki tetap sah meski ada pihak yang berusaha menyangkalnya. Pada akhirnya, keberanian untuk kembali mempercayai diri sendiri adalah langkah pertama menuju pemulihan dari luka yang ditinggalkan oleh manipulasi semacam ini.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *