Mencari Validasi dari Orang Lain, Kenapa Rasanya Tidak Pernah Cukup

  • Share
Ilustrasi

RBN || Jakarta

Hampir semua orang pernah merasakannya, kebutuhan untuk didengar, diakui, dan dianggap berharga oleh orang lain. Pujian, perhatian, dan persetujuan dari sekitar memang dapat memberi rasa nyaman sesaat. Namun bagi sebagian orang, kebutuhan ini tumbuh menjadi ketergantungan yang membuat harga diri sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain, sehingga kebahagiaan terasa rapuh dan mudah goyah.

Media sosial memperbesar kecenderungan ini. Jumlah like, komentar, dan tanggapan positif kerap dijadikan ukuran seberapa berarti diri seseorang. Ketika unggahan sepi respons, muncul kekhawatiran, apakah dirinya kurang menarik, kurang sukses, atau kurang layak diperhatikan. Padahal, nilai seseorang tidak pernah benar-benar ditentukan oleh reaksi orang lain di layar ponsel.

Psikolog Kristin Neff dari University of Texas at Austin, yang dikenal luas melalui penelitiannya tentang belas kasih terhadap diri sendiri, menjelaskan bahwa harga diri yang bergantung pada pencapaian dan penilaian eksternal cenderung tidak stabil. Ia naik ketika dipuji dan runtuh ketika dikritik. Sebaliknya, belas kasih terhadap diri sendiri memberi rasa aman yang tidak bergantung pada penilaian siapa pun, termasuk penilaian dari diri sendiri yang keras.

Kebutuhan akan validasi sering berakar dari pengalaman masa kecil. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang bersyarat, yang hanya mendapat perhatian saat berprestasi atau berperilaku sesuai harapan, dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang terus mencari pengakuan untuk merasa cukup. Pola ini bukan kelemahan karakter, melainkan cara bertahan yang dipelajari sejak dini dan terbawa hingga dewasa.

Mencari dukungan dan umpan balik dari orang lain bukanlah hal yang keliru. Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan koneksi, pengakuan, dan rasa memiliki. Persoalan muncul ketika seseorang kehilangan kemampuan menilai dirinya sendiri, sehingga setiap keputusan, penampilan, dan pencapaian harus terlebih dahulu disetujui orang lain sebelum dianggap sah.

Ketergantungan pada validasi eksternal dapat mendorong seseorang menekan pendapat sendiri demi disukai, mengubah keputusan hanya karena takut dinilai negatif, atau terus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini mengikis kepercayaan diri dan membuat seseorang semakin sulit mengenali apa yang sebenarnya ia inginkan.

Belajar memvalidasi diri sendiri bukan berarti menutup diri dari pendapat orang lain atau berhenti peduli pada hubungan sosial. Validasi diri berarti mampu mengakui usaha, perasaan, dan keputusan sendiri tanpa harus menunggu persetujuan orang lain terlebih dahulu. Seseorang dapat tetap terbuka terhadap masukan, namun tidak lagi menjadikannya satu-satunya sumber penilaian tentang dirinya.

Langkah kecil dapat dimulai dengan mengenali dan mengakui emosi sendiri tanpa terburu-buru menghakiminya, mencatat pencapaian pribadi tanpa menunggu pujian orang lain, serta membiasakan diri berbicara pada diri sendiri dengan cara yang sama lembutnya seperti saat menghibur teman yang sedang kesulitan. Kebiasaan sederhana ini secara perlahan membangun rasa percaya terhadap penilaian diri sendiri.

Rasa aman yang berasal dari dalam diri jauh lebih tahan lama dibandingkan rasa aman yang bergantung pada pujian dan pengakuan orang lain, sebab pujian dapat berhenti kapan saja, sementara penerimaan terhadap diri sendiri adalah sesuatu yang dapat terus dijaga dan dipupuk. Pada akhirnya, kedamaian yang paling stabil datang bukan dari seberapa banyak orang menganggap seseorang berharga, melainkan dari kemampuan seseorang untuk meyakini nilai dirinya sendiri, dengan atau tanpa validasi dari luar.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *