RBN || Jakarta
Istana Kepresidenan membantah anggapan bahwa pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai dirinya yang tidak pernah mengganggu pemimpin terpilih merupakan sindiran atau isyarat adanya gangguan dari pemimpin terdahulu terhadap pemerintahannya.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pernyataan Presiden harus dipahami dalam konteks demokrasi dan mekanisme pergantian kepemimpinan melalui pemilihan umum.
Menurut Prasetyo, Presiden Prabowo ingin menekankan bahwa Indonesia telah bersepakat menjalankan sistem demokrasi, di mana rakyat memilih pemimpinnya setiap lima tahun sekali melalui pemilu yang sah dan konstitusional.
Ia menjelaskan, perjalanan politik Prabowo mencerminkan penghormatan terhadap mekanisme demokrasi. Setelah menyelesaikan pengabdiannya di dunia militer, Prabowo terjun ke dunia usaha, kemudian memasuki politik melalui Partai Golkar pada 2004. Selanjutnya, pada 2008, ia mendirikan partai politik dan beberapa kali mengikuti pemilihan presiden hingga akhirnya memperoleh mandat rakyat pada Pilpres 2024.
Prasetyo menambahkan bahwa pengalaman Prabowo yang empat kali gagal dalam kontestasi pilpres tidak membuatnya mengganggu pemerintahan yang sedang berkuasa. Sebaliknya, Prabowo tetap mengikuti seluruh proses politik sesuai konstitusi hingga akhirnya dipercaya memimpin Indonesia.
Sebelumnya, dalam acara Sarasehan Kebangsaan: Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (26/6/2026), Prabowo menyampaikan bahwa dirinya telah lima kali meminta mandat kepada rakyat melalui pemilu. Ia mengungkapkan telah empat kali mengalami kekalahan, namun tidak pernah mengganggu pemimpin yang memperoleh mandat dari rakyat. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi yang akhirnya ditegaskan kembali oleh Istana bukan ditujukan kepada pemimpin tertentu.
Sumber: Kompas.com











