25 Ribu Mahasiswa Dilibatkan untuk Kurangi Sampah Bandung Raya 20 Persen
RBN || Bandung
Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kota Bandung memperkuat penanganan sampah dari hulu hingga hilir dengan menargetkan pengurangan sampah 20 persen dari sumbernya. Salah satu langkah yang disiapkan adalah melibatkan 25.000 mahasiswa untuk mengedukasi masyarakat di 50 kecamatan kawasan Bandung Raya.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk memperkuat sinergi dalam menangani persoalan strategis, termasuk sampah. Koordinasi itu dilakukan bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Balai Kota Bandung, Kamis (15/10/2026).
“Tidak bisa by feeling, harus by design. Hati harus hadir, logikanya juga harus hadir. Artinya, empirik dan saintifik harus ‘diadu-maniskeun’ (dipadukan),” ujar Herman.
Melalui kerja sama dengan LLDIKTI Wilayah IV, sebanyak 25.000 mahasiswa dari sekitar 90 perguruan tinggi akan berkolaborasi dengan camat, lurah, pengurus RW, dan masyarakat. Mereka akan mengedukasi warga mengenai pengurangan sampah makanan, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang sejak rumah tangga.
Herman mencontohkan Kecamatan Arcamanik yang menjadi lokasi percontohan kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi. Selama tiga bulan, pendampingan mahasiswa Unisba disebut mampu mengurangi volume sampah sekitar 20 persen dan meningkatkan sampah terpilah hingga dua kali lipat.
Dengan timbulan sampah Bandung Raya yang diperkirakan mencapai 5.000 ton per hari, pengurangan 20 persen berpotensi menekan sekitar 1.000 ton sampah yang masuk ke penanganan hilir setiap hari. “Sebanyak apa pun teknologi yang kita siapkan di hilir, kemampuan kita mengurangi sampah dari hulu harus diperkuat,” tutur Herman.
Di sisi hilir, Pemprov Jabar menyiapkan pemadatan sampah di TPA Sarimukti hingga Desember 2026 serta pembangunan dua gravity wall yang ditargetkan dimulai awal 2027. Pemerintah juga memitigasi persoalan air lindi dan menjajaki teknologi pirolisis serta pengolahan sampah menjadi refuse-derived fuel (RDF).
Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat, penanganan sampah Bandung Raya diharapkan semakin efektif sekaligus mengurangi tekanan terhadap TPA Sarimukti.


