RBN || Mamasa
Umat Hindu dari berbagai wilayah di Kabupaten Mamasa melaksanakan Ritual Manuk A’pak pada 21 Juli 2026 di Pura/Pemalaran Eran Dewata, Dusun Salu Awang, Desa Rippung, Kecamatan Messawa, Kabupaten Mamasa. Ritual yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali ini merupakan tradisi sakral yang menjadi simbol kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan).
Ritual Manuk A’pak tidak hanya menjadi tradisi umat Hindu Alukta di Salu Awang, tetapi merupakan ritual berskala kabupaten yang diikuti oleh perwakilan umat Hindu Alukta dari berbagai daerah di Kabupaten Mamasa. Kehadiran peserta dari berbagai wilayah mencerminkan semangat persatuan, kebersamaan, serta komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan warisan spiritual leluhur.
Prosesi ritual dipimpin oleh Lembang selaku pemangku, didampingi para tokoh adat, tokoh agama, penyuluh agama, serta umat Hindu yang hadir dari berbagai kecamatan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Takkin, Maraya, Nasir, Rudi, Asseng, Diana, Ida, Marta selaku Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), Yosep selaku Penyuluh Agama Hindu, Borrong Senga, Markus, serta perwakilan pemuda Hindu, di antaranya Rai dan Robert.
Ritual Manuk A’pak memiliki makna mendalam sebagai pengingat bahwa nilai-nilai Dharma harus senantiasa dijunjung tinggi dalam kehidupan. Tradisi ini juga berkaitan dengan Basse, yaitu ikrar atau perjanjian suci untuk tetap berpegang teguh pada kebenaran, menjaga keharmonisan, serta memperkuat persaudaraan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Selain menjadi bagian dari pelestarian tradisi keagamaan, pelaksanaan Ritual Manuk A’pak juga menjadi momentum mempererat hubungan antarumat Hindu dari berbagai wilayah di Kabupaten Mamasa. Melalui kebersamaan dalam menjalankan ritual, nilai gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap warisan leluhur terus diwariskan kepada generasi muda.
Ritual yang dipusatkan di Pura/Pemalaran Eran Dewata ini diharapkan terus menjadi salah satu identitas budaya dan spiritual umat Hindu Kabupaten Mamasa. Dengan tetap menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, tradisi ini tidak hanya memperkuat kehidupan beragama, tetapi juga menjadi kekayaan budaya daerah yang patut dilestarikan sebagai bagian dari keberagaman Indonesia.
Reportase: Haikel











