Korea Utara Siapkan Siaran Propaganda dan Perkuat Pertahanan Perbatasan
RBN || Pyongyang
Ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan kembali meningkat setelah Pyongyang mengumumkan rencana mengaktifkan siaran propaganda melalui pengeras suara di sepanjang perbatasan kedua negara. Langkah tersebut muncul menyusul insiden ledakan ranjau darat yang melukai tiga tentara Korea Selatan serta perselisihan mengenai aktivitas militer di kawasan perbatasan.
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menyampaikan rencana tersebut pada Rabu (21/10/2026) setelah meninjau pembangunan fasilitas pertahanan bersama pejabat tinggi militer. Ia memperingatkan bahwa Pyongyang akan mengambil tindakan balasan apabila aktivitas militer Korea Selatan dianggap mengganggu pembangunan pertahanan perbatasan.
Dalam pernyataan lanjutan pada Kamis (22/10/2026), Kim Yo Jong mengumumkan kesiapan sejumlah langkah tambahan untuk menghadapi situasi keamanan yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Korea Utara menyatakan akan menyiagakan “peralatan baru untuk menghadapi ancaman” di sepanjang wilayah perbatasan.
Penguatan pertahanan tersebut mencakup pemasangan ranjau darat, pagar kawat berduri, penghalang antitank, serta pembangunan fasilitas militer tambahan. Langkah ini menjadi bagian dari kebijakan pemerintahan Kim Jong Un untuk memperketat pengamanan sekaligus mempertegas pemisahan hubungan dengan Korea Selatan.
Saat meninjau kawasan perbatasan bersama Marsekal Pak Jong Chon, salah satu pejabat senior militer Korea Utara, Kim Yo Jong memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan pembangunan tersebut. Ia menyebut penguatan pertahanan sebagai “tugas besar dan suci” yang mendukung kebijakan pemutusan hubungan secara permanen dengan Korea Selatan.
Ketegangan terbaru juga berkaitan dengan ledakan ranjau di zona demiliterisasi pada 21 September 2026 yang menyebabkan tiga tentara Korea Selatan terluka. Seoul menuding ranjau yang dipasang pasukan Korea Utara sebagai penyebab kejadian, sedangkan Pyongyang membantah tuduhan tersebut.
Militer Korea Selatan menyatakan masih memantau perkembangan di sepanjang perbatasan dan belum menemukan indikasi pemasangan sistem persenjataan baru seperti yang diumumkan Pyongyang. Perbedaan pandangan kedua negara mengenai aktivitas militer di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya bentrokan.
Hubungan kedua Korea semakin memburuk setelah Kim Jong Un menetapkan Korea Selatan sebagai negara yang paling dimusuhi di tengah kebuntuan diplomatik dengan Amerika Serikat. Rencana pengaktifan kembali pengeras suara propaganda menjadi perkembangan terbaru dalam ketegangan yang terus membayangi Semenanjung Korea.
Sumber: Liputan6


