Ketika Teknologi Mengajar, Siapa yang Menanamkan Nilai Kemanusiaan?
RBN || Jakarta
Layar mulai menggantikan papan tulis, dan algoritma perlahan mengambil alih peran yang dulu hanya bisa dilakukan manusia. Anak-anak sekarang bisa bertanya apa saja kepada mesin dan mendapat jawaban dalam hitungan detik. Namun di tengah kemudahan itu, muncul pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh kecerdasan buatan secanggih apa pun: siapa yang akan menanamkan nilai kemanusiaan pada generasi yang tumbuh bersama teknologi ini?
Guru sering dipahami secara sempit, sekadar orang yang menyampaikan materi pelajaran agar murid lulus ujian. Padahal peran sesungguhnya jauh lebih dalam. Guru adalah orang yang menemani murid mengenali batas kemampuannya sendiri, lalu menunjukkan jalan untuk melampauinya sedikit demi sedikit. Kesalahan yang tadinya terasa memalukan bisa berubah menjadi bahan belajar, dan kegagalan yang tadinya menakutkan bisa berubah menjadi pijakan untuk bangkit, asalkan ada orang dewasa yang membimbing dengan cara yang tepat.
Bayangkan seorang murid yang nilainya jatuh setelah mengerjakan ujian. Ada dua kemungkinan respons yang bisa ia terima. Yang pertama, ia dicap bodoh atau malas, sebuah label yang akan terus melekat dan pelan-pelan mematikan rasa percaya dirinya. Yang kedua, ia menerima koreksi yang disampaikan dengan empati, sehingga kekurangannya terasa sebagai bagian dari proses, bukan aib yang harus disembunyikan. Perbedaan dua respons ini tampak kecil, tetapi dampaknya bisa menentukan apakah murid tersebut berani mencoba lagi atau justru menyerah lebih awal.
Riset dari Bank Dunia menunjukkan bahwa di antara semua faktor yang ada di lingkungan sekolah, sosok gurulah yang paling menentukan hasil belajar murid. Bukan gedung yang megah, bukan pula fasilitas yang lengkap, melainkan hubungan yang terjalin antara guru dan murid di dalam kelas. Pengaruh itu akan semakin besar ketika guru benar-benar mengenali keunikan setiap muridnya dan membangun kepercayaan yang membuat murid merasa aman untuk bertanya, salah, dan mencoba kembali.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan pakar pendidikan John Hattie, yang menekankan bahwa proses belajar akan berjalan lebih efektif ketika guru mampu menempatkan diri dari sudut pandang murid, bukan sekadar dari sudut pandang pengajar. Dengan cara pandang seperti itu, guru bisa lebih peka membaca kesulitan yang dialami murid, mengukur sejauh mana kemajuan yang sudah dicapai, dan menentukan bentuk dukungan yang paling dibutuhkan pada momen tertentu. Kepekaan semacam ini sulit ditiru oleh sistem otomatis, sebab ia lahir dari pengamatan yang terus-menerus dan hubungan yang dibangun dari waktu ke waktu.
Peran guru juga tidak berhenti pada angka di rapor atau target kurikulum yang harus dituntaskan. Di ruang kelas, banyak hal lain yang diam-diam sedang dibentuk, mulai dari cara murid berpikir menghadapi masalah, karakter yang ia pegang saat menghadapi godaan untuk berbuat curang, keberanian untuk mengemukakan pendapat berbeda, hingga kepercayaan diri untuk tampil di depan orang banyak. Semua ini tidak tercantum dalam soal ujian, tetapi justru menjadi bekal yang paling terpakai ketika murid sudah keluar dari lingkungan sekolah.
Teknologi memang membawa kemudahan luar biasa dalam mengakses informasi. Apa yang dulu harus dicari di perpustakaan selama berhari-hari, kini bisa ditemukan hanya dengan beberapa ketukan di layar. Namun kemudahan ini punya batasnya sendiri. Perangkat digital bisa menyediakan data dan jawaban, tetapi tidak bisa menghadirkan empati saat murid sedang patah semangat, tidak bisa menjadi teladan tentang bagaimana bersikap jujur, dan tidak bisa menangkap kepekaan kecil yang hanya bisa dirasakan lewat interaksi manusia dengan manusia.
Tanggung jawab besar yang dipikul guru semestinya juga diimbangi dengan dukungan yang memadai dari sistem di sekitarnya. UNESCO memperkirakan dunia masih membutuhkan puluhan juta guru pendidikan dasar dan menengah dalam beberapa tahun ke depan agar cita-cita pendidikan yang merata bagi semua anak bisa tercapai. Angka sebesar itu adalah pengingat bahwa persoalan pendidikan bukan sekadar soal kurang banyaknya jumlah guru, melainkan juga soal bagaimana mempertahankan guru-guru yang berkualitas agar tidak lelah dan berhenti di tengah jalan.
Pelatihan yang berkelanjutan, suasana kerja yang sehat, penghasilan yang layak, dan kepercayaan masyarakat terhadap profesi ini adalah investasi yang tidak boleh dianggap remeh. Ketika seorang guru merasa dihargai dan didukung, energi yang tersisa untuknya membimbing murid dengan sabar juga akan lebih besar. Sebaliknya, guru yang bekerja dalam tekanan dan minim dukungan akan kesulitan menghadirkan kehangatan yang sama, meski niatnya tidak pernah berkurang.
Banyak murid yang, setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah, sudah lupa rumus matematika atau detail teori yang pernah dihafalkan semalam sebelum ujian. Namun ingatan tentang seorang guru yang pernah menyempatkan diri bertanya kabar di saat sulit, atau yang memberi semangat ketika semua orang lain meragukan, biasanya justru bertahan jauh lebih lama. Ingatan semacam itu sering menjadi kekuatan diam-diam yang menuntun seseorang saat menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih besar dari sekadar ujian sekolah.
Menghargai jasa guru berarti mengakui bahwa perannya jauh melampaui transfer pengetahuan. Guru adalah pihak yang menyalakan harapan, membukakan jalan bagi murid untuk melihat kemungkinan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Sebesar apa pun kemajuan teknologi yang hadir mengiringi dunia pendidikan, nilai kemanusiaan yang ditanamkan lewat bimbingan, keteladanan, dan kepedulian seorang guru tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan bagi murid untuk tumbuh menjadi manusia yang berilmu, tangguh, dan berkarakter.


