Fadli Zon Perkuat Pelestarian Trowulan sebagai Pusat Peradaban Majapahit

RBN || Mojokerto

Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau sejumlah situs bersejarah di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Peninjauan tersebut diarahkan untuk memperkuat riset peradaban, menyelamatkan artefak autentik, serta mempercepat pemugaran struktur penting peninggalan Kerajaan Majapahit.

Salah satu lokasi yang ditinjau adalah Situs Sumur Upas Sentonorejo yang berdasarkan pemetaan LiDAR dan hasil ekskavasi menunjukkan indikasi sebagai pusat Kedaton atau kota raja Majapahit. Temuan struktur hunian elite, sistem pengairan, petirtaan, saluran air, terakota, batu bata, hingga plesteran kapur menunjukkan kompleksitas tata ruang dan teknologi pada masa tersebut.

Fadli mengatakan hasil penelitian juga menemukan enam lapisan peradaban di kawasan tersebut. Temuan itu menunjukkan bahwa wilayah Sentonorejo telah digunakan secara berkelanjutan dan memiliki posisi penting dalam perkembangan peradaban Majapahit.

Peninjauan kemudian dilanjutkan ke Situs Bhre Kahuripan di Klinterjo yang dikenal sebagai tempat pendharmaan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Di lokasi tersebut terdapat Yoni Naga Raja berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi yang menjadi salah satu temuan penting dalam kajian sejarah Majapahit.

Keberadaan Yoni monumental tersebut juga dikaitkan dengan catatan dalam naskah kuno Pararaton mengenai kawasan pendharmaan Giri Pantarapura. Pemerintah terus melakukan ekskavasi dan pemugaran, termasuk pada struktur pagar dan kawasan situs.

Fadli menegaskan pelestarian Trowulan tidak hanya berorientasi pada perawatan fisik peninggalan sejarah. Penguatan riset diperlukan untuk membangun narasi sejarah Nusantara yang lebih komprehensif, edukatif, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Upaya tersebut juga sejalan dengan percepatan revitalisasi Museum Majapahit. Kementerian Kebudayaan menargetkan KCBN Trowulan berkembang sebagai pusat penelitian dan edukasi peradaban Nusantara dengan dukungan teknologi modern serta kolaborasi akademisi, arkeolog, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan.

Langkah tersebut diharapkan membuat peninggalan Majapahit tidak hanya menjadi warisan yang dilestarikan. Trowulan juga diharapkan menjadi ruang pembelajaran untuk memahami perjalanan peradaban Nusantara sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah Indonesia kepada generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *