BPOM Perkuat Kader Edukator Cegah Penyalahgunaan Obat dan Keracunan Pangan
RBN || Jakarta
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat edukasi masyarakat untuk mencegah penyalahgunaan obat, peredaran obat ilegal, dan keracunan pangan. Upaya tersebut dilakukan melalui Training of Trainer (ToT) Pencegahan Penyalahgunaan Obat dan Keracunan Pangan di Jakarta, Selasa (28/10/2026).
Kegiatan yang digelar BBPOM DKI Jakarta secara luring dan daring itu melibatkan sekitar 500 peserta. Program tersebut merupakan kolaborasi bersama Pemprov DKI Jakarta dan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) DKI Jakarta.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan, pengawasan obat dan makanan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, akademisi, dunia usaha, media, dan organisasi masyarakat dinilai memiliki peran penting.
“Saya kira, kita tidak mampu bekerja sendiri. Kami harus bersama-sama dengan pemerintah daerah, kawan-kawan dari kepolisian, kawan-kawan dari BPOM, serta para pemangku kepentingan terkait,” tegas Taruna.
Pelatihan menyasar sejumlah elemen strategis, terutama lingkungan pendidikan tingkat SMP dan SMA. Para kader dibekali kemampuan mengenali risiko penyalahgunaan obat serta bahan berbahaya pada pangan, termasuk pengawet, pewarna, dan pemanis yang tidak sesuai standar.
Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Savitri Handayana mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia berharap sinergi lintas sektor dapat mendukung Jakarta menjadi kota yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.
Dukungan juga disampaikan Ketua Dewan Pakar LPAI Seto Mulyadi. “Kami dukung sepenuhnya juga dari BPOM, yang telah betul-betul mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak Indonesia dalam rangka menuju Indonesia Emas tahun 2045,” tuturnya.
Kader yang disiapkan mencakup guru, anggota Saka POM, penyuluh instansi, dan apoteker puskesmas. Edukasi diperkuat melalui platform digital Learning Space for Cadres (LSC) 2.0 yang menyediakan microlearning, video, simulasi kasus, dan rencana aksi.


