Kementan Dorong Hilirisasi Perkebunan untuk Tingkatkan Nilai Ekspor
RBN || Jakarta
Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet mendorong perubahan besar dalam pengelolaan perkebunan nasional melalui hilirisasi dan peningkatan produktivitas. Pemerintah menargetkan lebih dari 90 persen ekspor komoditas perkebunan ke depan berupa produk turunan bernilai tambah tinggi.
Dorongan tersebut disampaikan Alim saat menghadiri International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (4/11/2026). Menurutnya, perkebunan tidak hanya berperan sebagai sumber devisa, tetapi juga menopang ekonomi, membuka lapangan kerja, dan mendukung ketahanan energi.
Pemerintah sejak 2025 telah menjalankan program hilirisasi terhadap tujuh komoditas unggulan, yakni tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala. Kebijakan ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah yang saat ini masih mencapai sekitar 20–30 persen.
“Target kita ke depan, mudah-mudahan kita bisa mencapai lebih dari 90 persen ekspor perkebunan sudah dalam bentuk produk turunan,” ungkap Alim.
Potensi hilirisasi terlihat dari komoditas kelapa yang dapat menghasilkan nilai ekonomi jauh lebih tinggi setelah diolah. Kelapa seharga sekitar Rp1.350 per kilogram, misalnya, dapat diolah menjadi minyak kelapa sekitar Rp60.000 per liter atau VCO yang nilainya mencapai Rp145.000 per liter.
Selain meningkatkan nilai tambah, pemerintah memperkuat sektor hulu melalui perluasan, peremajaan, dan rehabilitasi sekitar 870 ribu hektare perkebunan. Pada 2026, pengembangan kawasan kakao mencapai 174.000 hektare dan kelapa 151.554 hektare.
Hilirisasi juga diarahkan untuk mendukung ketahanan energi melalui mandatori biodiesel B50 dan pengembangan bioetanol E10. Pemerintah menyiapkan pengembangan sawit untuk bioenergi seluas 2–5 juta hektare serta mengembangkan bahan baku bioetanol dari tebu, jagung, ubi kayu, sorgum, dan jambu mete.
Alim menilai transformasi tersebut membutuhkan dukungan riset, teknologi, mekanisasi, kecerdasan artifisial, dan varietas unggul. Ia menegaskan inovasi harus mampu mengubah keunggulan komparatif perkebunan Indonesia menjadi keunggulan kompetitif.
“Teknologi dan inovasi harus mengubah keunggulan komparatif yang kita miliki menjadi keunggulan kompetitif,” ujarnya.


