Pencegahan Jadi Kunci Percepatan Eliminasi TBC di Jakarta
RBN || Jakarta
Pemerintah memperkuat pencegahan tuberkulosis (TBC) di Jakarta melalui Terapi Pencegahan TB (TPT) dan pelacakan kontak erat. Langkah tersebut dinilai penting untuk memutus rantai penularan dan mendukung target eliminasi TBC pada 2030.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, keberhasilan pengobatan pasien harus diikuti upaya pencegahan yang lebih agresif. Setiap rumah sakit dan Puskesmas diminta memastikan kontak serumah diperiksa serta memperoleh TPT bila memenuhi kriteria.
“Setiap rumah sakit dan Puskesmas harus memastikan kontak serumah diperiksa dan mendapatkan TPT demi melindungi masa depan keluarga masyarakat,” tegas Benjamin dalam acara Hospital Leadership for TB Elimination di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (28/10).
Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC. Diperkirakan 1,08 juta orang jatuh sakit dan 126.000 orang meninggal akibat TBC setiap tahun.
Di Jakarta, capaian pasien yang memulai pengobatan sudah di atas 90 persen. Namun, cakupan TPT bagi kontak serumah masih sekitar 40 persen sehingga pencegahan penularan perlu diperkuat.
Sebanyak 62–64 persen kasus TBC di Jakarta pertama kali ditemukan di rumah sakit. Kondisi ini membuat rumah sakit pemerintah, swasta, serta TNI/Polri memiliki peran penting dalam penanganan terpadu.
Kemenkes juga memastikan seluruh Puskesmas di Jakarta dilengkapi Tes Cepat Molekuler (TCM). Sebanyak 32 unit Portable X-Ray disiapkan untuk membantu pelacakan kontak hingga permukiman padat, sementara obat TPT tersedia gratis di rumah sakit pemerintah maupun swasta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mendukung percepatan eliminasi TBC dengan mengoptimalkan 197 rumah sakit dan jaringan Puskesmas. Ia juga meminta layanan kesehatan tidak membatasi akses berdasarkan kepemilikan KTP.
“Saya memberikan dukungan sepenuhnya agar pada 2030 eliminasi TB di Jakarta benar-benar bisa terwujud,” ujar Pramono.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menilai integrasi rumah sakit, Puskesmas, dan kader komunitas menjadi kunci untuk memastikan pasien sembuh serta rantai penularan terputus.


