Airlangga Dorong Pembangunan Hunian Vertikal bagi ASN di Jakarta untuk Pangkas Waktu Perjalanan
RBN || Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong pembangunan hunian vertikal bagi aparatur sipil negara (ASN) di Jakarta. Gagasan tersebut disampaikan sebagai upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan di Ibu Kota sekaligus mendekatkan tempat tinggal masyarakat dengan lokasi kerja.
Airlangga menilai Jakarta tidak lagi dapat mengandalkan pengembangan kota secara horizontal. Menurutnya, konsep kota vertikal melalui pembangunan gedung hunian bertingkat dapat menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal di tengah tingginya aktivitas penduduk.
“Jadi Jakarta itu sebetulnya tidak bisa lagi menjadi flat city. Jakarta itu harus menjadi kota yang naik ke atas semua,” kata Airlangga di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, pembangunan hunian vertikal memungkinkan masyarakat tinggal lebih dekat dengan tempat kerja. Dengan demikian, waktu perjalanan harian yang selama ini dihabiskan untuk pergi dan pulang kerja diharapkan dapat dikurangi.
“Ya, vertikal ini tentunya memudahkan masyarakat untuk bisa tinggal dekat dengan tempat kerjanya,” ujarnya.
Aset Pemerintah Berpotensi Dimanfaatkan untuk Hunian ASN
Airlangga menyebut aset-aset milik pemerintah yang tersebar di Jakarta berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan hunian vertikal. Menurutnya, ketersediaan aset tersebut dapat menjadi salah satu peluang untuk merealisasikan pembangunan menara hunian bagi ASN.
Ia mengungkapkan bahwa rencana tersebut telah dibicarakan bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman. Pemerintah mempertimbangkan pembangunan hunian dalam bentuk menara sebagai salah satu alternatif penyediaan tempat tinggal bagi pegawai negeri yang bekerja di Jakarta.
“Nah sebetulnya aset-aset pemerintah itu banyak, dan kami bicara juga dengan Menteri Perumahan Rakyat bahwa kita harus membangun tower-tower juga untuk ASN,” ucapnya.
Menurut Airlangga, pembangunan hunian vertikal dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan Jakarta yang memiliki keterbatasan ruang untuk terus berkembang secara horizontal. Pemanfaatan lahan secara optimal diharapkan dapat mendukung penyediaan tempat tinggal, terutama bagi masyarakat yang aktivitas pekerjaannya terpusat di Ibu Kota.
Meski demikian, dalam laporan tersebut belum dijelaskan secara terperinci mengenai lokasi pembangunan, jumlah menara yang direncanakan, anggaran yang dibutuhkan, maupun jadwal pelaksanaan proyek hunian bagi ASN tersebut.
Mobilitas Warga Jabodetabek Menjadi Perhatian
Selain mendorong pembangunan hunian vertikal, Airlangga turut menyoroti persoalan mobilitas masyarakat di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Ia menyebut kawasan Jabodetabek memiliki sekitar 42 juta penduduk, sementara Jakarta dihuni sekitar 11 juta orang. Besarnya jumlah penduduk di kawasan metropolitan tersebut membuat konektivitas antara Jakarta dan daerah-daerah penyangga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Airlangga mengatakan banyak pekerja di Jakarta, termasuk ASN, yang tinggal di luar wilayah Ibu Kota. Daerah seperti Bekasi, Depok, dan Bogor menjadi tempat tinggal bagi sebagian pekerja yang setiap hari harus melakukan perjalanan menuju Jakarta untuk bekerja.
“Karena banyak, kebanyakan termasuk pegawai negeri itu tinggalnya di luar Jakarta, di Bekasi, di Depok, Bogor,” katanya.
Kondisi tersebut membuat sebagian pekerja harus menghabiskan waktu cukup panjang dalam perjalanan pergi dan pulang kerja. Mobilitas harian yang tinggi menjadi salah satu persoalan yang ingin diatasi melalui pengembangan hunian vertikal dan penguatan konektivitas antardaerah.
Waktu Perjalanan Panjang Dinilai Mengurangi Waktu Bersama Keluarga
Airlangga menyoroti bahwa perjalanan dari wilayah penyangga menuju Jakarta dapat dimulai sejak pagi hari dan berakhir pada malam hari. Ia menyebut sebagian pekerja berangkat sekitar pukul 05.00 WIB dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 21.00 WIB.
Lamanya waktu yang dihabiskan di perjalanan dinilai berdampak terhadap kesempatan pekerja untuk menjalani kehidupan pribadi dan menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Jadi mereka tidak punya family living dengan keluarga. Nah ini yang kita berharap ini bisa diselesaikan,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dorongan pembangunan hunian vertikal tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan lahan perkotaan, tetapi juga dengan upaya mendekatkan tempat tinggal dan tempat kerja. Dengan jarak yang lebih dekat, waktu perjalanan pekerja diharapkan dapat menjadi lebih efisien sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga.
Airlangga juga menekankan pentingnya memperkuat konektivitas Jakarta dengan wilayah penyangga. Pengembangan kawasan metropolitan tersebut menjadi bagian dari persoalan mobilitas yang perlu diperhatikan seiring besarnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di Jabodetabek.
Melalui gagasan pembangunan hunian vertikal bagi ASN, pemerintah mendorong pemanfaatan aset yang tersedia untuk mendukung kebutuhan tempat tinggal di Jakarta. Namun, realisasi rencana tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai lokasi, pembiayaan, dan mekanisme pelaksanaannya.
Sumber: detikNews


