Malaysia Tawarkan Pesawat Amfibi dan Helikopter untuk Bantu Penanganan Karhutla di Indonesia
RBN || Jakarta
Pemerintah Malaysia menawarkan bantuan berupa satu pesawat amfibi CL-415MP, satu helikopter Mi-171, serta 44 personel yang terdiri atas awak dan teknisi untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Tawaran tersebut tengah dikaji oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar sesuai dengan kebutuhan operasi dan kondisi di lapangan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan tawaran bantuan itu dibahas dalam pertemuan Kepala BNPB Kristomei Sianturi dengan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Muzafar Shah Mustafa, di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Berton menjelaskan bahwa tawaran tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia dan Malaysia untuk menjajaki dukungan yang dapat memperkuat operasi penanganan karhutla. Selain bantuan peralatan dan personel, kedua negara juga membahas peluang kerja sama teknologi, termasuk pemantauan dan deteksi dini, pengumpulan serta analisis data, penilaian wilayah terdampak, strategi pemadaman, penelitian, dan inovasi.
BNPB selanjutnya akan berkoordinasi dengan Agensi Pengurusan Bencana Negara (NADMA) Malaysia melalui fasilitasi Kementerian Luar Negeri. Pembahasan teknis mencakup kesesuaian bantuan, kesiapan pengerahan, kebutuhan logistik, prosedur keselamatan penerbangan, serta alternatif dukungan apabila asap tebal dan jarak pandang rendah menghambat operasi udara.
Berton menegaskan bahwa seluruh bantuan internasional akan disesuaikan dengan kebutuhan penanganan bencana dan ketentuan yang berlaku. Kendali operasi tetap berada di tangan Pemerintah Indonesia.
Sementara itu, penanganan karhutla di Indonesia masih dilakukan secara terpadu melalui pemadaman darat, pemadaman udara menggunakan helikopter dengan metode water bombing, serta operasi modifikasi cuaca. Kegiatan tersebut berada di bawah koordinasi teknis BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
BNPB berharap penjajakan kerja sama bilateral ini dapat menghasilkan dukungan konkret untuk meningkatkan efektivitas penanganan karhutla. Kerja sama tersebut juga diharapkan membuka peluang pemanfaatan teknologi dan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana bagi kedua negara.
Sumber: detikNews


