Prancis dan Inggris Perdana Gelar Simulasi Serangan Nuklir di Laut Mediterania
RBN || Paris
Angkatan udara Prancis dan Inggris untuk pertama kalinya menggelar latihan militer gabungan yang menyimulasikan serangan nuklir di atas Laut Mediterania. Latihan berkode Rummy tersebut melibatkan jet tempur Typhoon milik Angkatan Udara Inggris (RAF) dan pesawat Rafale milik Prancis. Berita mengenai latihan tersebut diterbitkan detikNews pada Sabtu (24/10/2026), sedangkan tanggal pasti pelaksanaan latihan tidak disebutkan dalam laporan tersebut.
Dilansir dari detikNews, latihan itu dilaksanakan dengan mengikuti prosedur keamanan dan tanpa menggunakan senjata nuklir sungguhan. Kementerian pertahanan kedua negara menyatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan koordinasi antara Prancis dan Inggris sebagai dua negara berkekuatan nuklir di Eropa.
Dalam pelaksanaannya, pesawat Rafale milik Prancis lepas landas dari sebuah pangkalan di wilayah timur laut Prancis dengan pengawalan jet tempur Typhoon RAF. Kedua pesawat kemudian menjalankan simulasi serangan nuklir sebagai bagian dari latihan gabungan tersebut.
Latihan ini berlangsung di tengah ketegangan antara negara-negara anggota NATO dan Rusia, yang memiliki persenjataan nuklir. Situasi keamanan Eropa masih menjadi perhatian setelah invasi Rusia ke Ukraina yang telah berlangsung sekitar empat setengah tahun.
Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya menawarkan perluasan perlindungan penangkal nuklir Prancis kepada sekutu-sekutu Eropa. Prancis kini menjadi satu-satunya negara anggota Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir setelah Inggris keluar dari Uni Eropa melalui Brexit.
Menteri Pertahanan Prancis Catherine Vautrin menegaskan bahwa kepemilikan kekuatan nuklir secara mandiri tidak menghalangi kerja sama pertahanan dengan negara lain. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Prancis tetap membuka peluang koordinasi militer dengan sekutunya tanpa mengesampingkan kemandirian pertahanan nasional.
Latihan gabungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi pertahanan Prancis dan Inggris di tengah dinamika keamanan internasional. Meskipun tidak menggunakan senjata nuklir sungguhan, simulasi tersebut memperlihatkan pentingnya kesiapan dan kerja sama militer dalam menghadapi potensi ancaman terhadap keamanan kawasan Eropa.
Sumber: Detik News


