Keberhasilan Orang Lain Bukan Kekalahan Kita
RBN || Jakarta
Ada dua reaksi berbeda ketika mendengar kabar keberhasilan seseorang yang sebaya dengan kita. Sebagian orang merasa terpicu untuk ikut berkembang, sementara sebagian lain justru merasa kecil, seolah pencapaian orang itu secara otomatis mengurangi nilai dirinya sendiri. Perbedaan reaksi ini bukan soal siapa yang lebih baik hatinya, melainkan soal cara pandang yang selama ini tertanam tentang bagaimana keberhasilan bekerja.
Psikolog Carol Dweck, yang meneliti pola pikir manusia dalam menghadapi tantangan dan pencapaian, membedakan dua jenis pola pikir yang memengaruhi cara seseorang merespons keberhasilan orang lain. Pola pikir tetap membuat seseorang percaya bahwa kemampuan adalah sesuatu yang sudah ditentukan sejak awal, sehingga keberhasilan orang lain terasa seperti bukti bahwa dirinya kurang mampu. Pola pikir berkembang membuat seseorang percaya bahwa kemampuan dapat terus diasah, sehingga keberhasilan orang lain justru dilihat sebagai bukti bahwa hal serupa juga mungkin diraih lewat usaha yang tepat.
Pola pikir tetap sering diam-diam membentuk cara berpikir yang menganggap keberhasilan sebagai sesuatu yang terbatas, seolah hanya ada sedikit ruang untuk orang-orang yang berhasil, dan setiap kali seseorang mengisi ruang itu, ruang untuk kita menjadi semakin sempit. Cara berpikir semacam ini membuat keberhasilan orang lain terasa seperti ancaman, padahal dalam kehidupan nyata, keberhasilan jarang bekerja seperti kue yang jumlahnya tetap dan harus diperebutkan.
Anggapan bahwa keberhasilan itu terbatas disebut pola pikir zero-sum, yaitu keyakinan bahwa keuntungan satu pihak selalu berarti kerugian bagi pihak lain. Dalam banyak bidang kehidupan, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Seorang teman yang mendapat promosi tidak mengurangi peluang kita untuk berkembang di bidang kita sendiri. Seorang rekan yang bisnisnya sukses tidak secara otomatis menutup jalan bagi bisnis kita untuk ikut tumbuh.
Ketika seseorang mulai memandang keberhasilan orang lain sebagai ancaman, energi yang seharusnya digunakan untuk berkembang justru habis untuk mengawasi dan membandingkan. Alih-alih bertanya, apa yang bisa aku pelajari dari pencapaian ini, pikiran justru sibuk bertanya, mengapa bukan aku yang mendapatkannya. Pertanyaan kedua ini jarang membawa pada solusi apa pun, ia hanya memperbesar rasa tidak puas.
Melihat keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan ancaman, membutuhkan latihan mengubah kebiasaan berpikir yang sudah lama tertanam. Salah satu caranya adalah dengan secara sadar bertanya, keterampilan atau kebiasaan apa yang membuat orang ini berhasil, dan apakah ada bagian dari caranya yang bisa dipelajari dan diterapkan dalam perjalanan kita sendiri, tanpa harus meniru seluruhnya.
Cara pandang ini juga mengubah bagaimana kita memperlakukan orang-orang di sekitar. Seseorang dengan pola pikir berkembang lebih mudah memberi ucapan selamat yang tulus, lebih terbuka membagikan ilmu, dan lebih nyaman bekerja sama dengan orang lain, sebab ia tidak melihat rekan-rekannya sebagai lawan dalam perlombaan yang harus dikalahkan.
Perlu diingat bahwa mengubah cara pandang ini tidak berarti menghilangkan seluruh perasaan iri yang mungkin muncul. Perasaan iri adalah hal yang wajar dialami manusia. Yang membedakan adalah apa yang dilakukan setelah perasaan itu muncul, apakah dibiarkan berkembang menjadi kebencian, atau diolah menjadi dorongan untuk memperbaiki diri sendiri.
Kehidupan yang lebih ringan justru muncul ketika seseorang berhenti menghitung keberhasilan orang lain sebagai pengurang dari keberhasilannya sendiri. Ada cukup ruang bagi banyak orang untuk sama-sama tumbuh, sama-sama berhasil, dan sama-sama merayakan pencapaian masing-masing tanpa harus ada yang merasa kalah karena orang lain sedang menang.

Betul banget, kita sedang menata dan mempersiapkan