Bahagia Tidak Perlu Menjatuhkan Orang Lain
RBN || Jakarta
Perhatikan seseorang yang tersenyum kecut setiap kali mendengar kabar baik temannya, lalu diam-diam mencari sisi negatif dari pencapaian itu agar terasa tidak terlalu istimewa. Ia bukan sedang jahat, ia sedang berjuang dengan rasa tidak amannya sendiri, dan cara satu-satunya yang ia tahu untuk merasa lebih baik adalah membuat orang lain terlihat sedikit lebih kecil.
Psikolog Abraham Tesser, yang meneliti bagaimana keberhasilan orang lain memengaruhi harga diri seseorang, menemukan pola yang disebut sebagai perbandingan sosial yang mengancam diri. Ketika orang terdekat berhasil dalam bidang yang juga kita anggap penting bagi identitas kita sendiri, keberhasilan itu bisa terasa seperti ancaman, bukan alasan untuk bahagia bersama. Semakin dekat bidang tersebut dengan cara kita mendefinisikan diri, semakin besar pula godaan untuk diam-diam mengecilkan pencapaian orang itu.
Reaksi ini bekerja seperti alarm pertahanan diri. Ketika seseorang merasa nilainya terancam oleh keberhasilan orang lain, ada dua jalan yang bisa diambil. Jalan pertama adalah menggunakan momen itu untuk terinspirasi dan ikut berkembang. Jalan kedua, yang jauh lebih mudah namun merusak, adalah mengecilkan pencapaian tersebut, mencari-cari kekurangannya, atau menyebarkan komentar sinis agar rasa terancam itu mereda.
Kebahagiaan yang dibangun dengan cara kedua sebenarnya rapuh sejak awal. Ia hanya bertahan selama ada orang lain yang bisa dijatuhkan untuk dibandingkan. Begitu muncul orang baru yang lebih berhasil, proses yang sama akan terulang, sebab akar masalahnya tidak pernah benar-benar diselesaikan, hanya dipindahkan dari satu target ke target berikutnya.
Seseorang yang merasa cukup aman dengan dirinya sendiri biasanya tidak terlalu terguncang oleh keberhasilan orang lain. Ia memahami bahwa pencapaian temannya tidak otomatis mengurangi nilai dirinya sendiri, sebab dua hal itu berjalan di jalur yang berbeda. Rasa aman semacam ini tidak datang dengan sendirinya, ia dibangun lewat kebiasaan menerima diri apa adanya, termasuk bagian yang belum sesukses orang lain.
Media sosial memperberat persoalan ini, sebab manusia setiap hari disuguhi potongan terbaik dari kehidupan orang lain, mulai dari pencapaian karier hingga momen bahagia keluarga, yang sudah dipilih dan dirapikan sedemikian rupa. Tanpa kesadaran yang cukup, seseorang mudah merasa tertinggal, dan perasaan tertinggal inilah yang sering berubah menjadi dorongan untuk mengecilkan orang lain, sekadar agar jarak yang dirasakan terasa tidak terlalu jauh.
Kebahagiaan yang matang tidak berarti seseorang harus selalu tenang dan tidak pernah cemburu. Perasaan iri sesekali adalah hal yang wajar dialami manusia. Yang membedakan bukan ada atau tidaknya perasaan itu, melainkan apa yang dilakukan dengan perasaan tersebut, apakah dijadikan bahan refleksi untuk berkembang, atau dijadikan alasan untuk menjatuhkan orang yang menjadi sumber perbandingan.
Orang yang damai dengan dirinya tidak perlu menolak pujian, namun juga tidak hidup dari pujian semata. Ia bisa bekerja dengan baik meski tidak selalu disorot, membantu tanpa harus diketahui banyak orang, dan merayakan pencapaian kecilnya sendiri tanpa merasa harus dibandingkan dengan pencapaian orang lain yang lebih besar.
Kebahagiaan semacam ini juga tidak berarti seseorang harus selalu mengalah. Ia tetap boleh menyampaikan pendapatnya, menetapkan batas, merasa kecewa saat diperlakukan tidak adil, bahkan menjauh dari hubungan yang tidak sehat. Yang membedakan kebahagiaan yang matang bukan sikap lembut tanpa syarat, melainkan kemampuan menjaga diri sendiri tanpa harus menghancurkan orang lain dalam prosesnya.
Hidup akan selalu membawa pengalaman yang menyakitkan, dan luka itu tidak harus melahirkan luka baru bagi orang lain. Seseorang mungkin tidak dapat mengendalikan semua yang terjadi padanya, namun ia tetap dapat memilih apakah kekecewaan yang dirasakan akan diubah menjadi alasan untuk merendahkan, atau menjadi pelajaran untuk tumbuh dengan lebih memahami batas, empati, dan ketenangan diri sendiri.
