Emosi Itu Pengalaman, Bukan Identitas

RBN || Jakarta

Ada perbedaan kecil dalam bahasa yang jarang disadari, tetapi ternyata membawa dampak besar terhadap cara seseorang menjalani emosinya. Kalimat saya sedang cemas dan saya adalah orang yang cemas terdengar mirip, tetapi keduanya membawa makna yang sangat berbeda. Kalimat pertama menggambarkan sebuah pengalaman yang sedang berlangsung, sesuatu yang datang dan pada waktunya akan berlalu. Kalimat kedua menggambarkan sebuah identitas, seolah kecemasan bukan lagi sesuatu yang dirasakan, melainkan sesuatu yang menjadi bagian permanen dari siapa dirinya.

Psikolog Susan David memperdalam gagasan ini melalui konsepnya yang disebut emotional agility, kelincahan emosional. David membedakan antara dua cara seseorang berhubungan dengan emosinya sendiri. Cara pertama disebut hooked, ketika seseorang terjerat sepenuhnya oleh emosi yang dirasakan, sehingga emosi itu mengambil alih kendali atas pikiran dan tindakannya. Cara kedua adalah kemampuan mengambil jarak yang sehat, di mana seseorang tetap mengakui dan merasakan emosinya secara penuh, tetapi tidak membiarkan emosi tersebut menentukan seluruh keputusan dan cara pandangnya terhadap diri sendiri.

David menekankan bahwa menekan atau menghindari emosi yang tidak nyaman justru sama bermasalahnya dengan tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Kedua pola ini, baik penekanan maupun peleburan total, sama-sama mencegah seseorang untuk benar-benar belajar dari emosi yang sedang dialaminya. Emosi, menurut David, membawa informasi penting tentang apa yang sesungguhnya bernilai bagi seseorang, dan informasi itu hanya bisa dipahami dengan baik jika emosi tersebut didekati dengan rasa ingin tahu, bukan dihindari maupun ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran mutlak tentang diri.

Melatih diri memisahkan emosi dari identitas dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu mengganti cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri saat menghadapi perasaan yang berat. Alih-alih berkata saya hancur, mencoba mengatakan saya sedang merasa sangat terpukul saat ini. Alih-alih berkata saya tidak berguna, mencoba mengatakan saya sedang mengalami perasaan tidak berguna, dan perasaan ini mungkin akan berubah seiring waktu. Perubahan bahasa yang tampak kecil ini, jika dilatih secara konsisten, perlahan mengubah hubungan seseorang dengan emosinya sendiri, dari hubungan yang terjebak dan kaku, menjadi hubungan yang lebih lapang dan penuh ruang untuk bergerak.

Emosi akan selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia, datang silih berganti mengikuti keadaan yang dihadapi, kadang menyenangkan, kadang berat, dan tidak jarang membingungkan. Namun emosi hanyalah pengalaman yang singgah, bukan cetakan permanen yang menentukan siapa seseorang sesungguhnya. Kesediaan untuk merasakan emosi secara penuh, tanpa menekan maupun melebur habis di dalamnya, sekaligus menjaga jarak yang cukup sehat agar tidak menjadikannya sebagai identitas tetap, adalah keterampilan yang layak terus dilatih sepanjang hidup, sebab di situlah letak kebebasan sejati untuk terus bertumbuh, terlepas dari perasaan apa pun yang sedang singgah hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *