UNHAN RI Gelar Konferensi International Day of Peace 2026, Dorong Investasi Perdamaian Ditengah Dinamika Keamanan Global
RBN || Jakarta
Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI) menggelar konferensi dalam rangka International Day of Peace 2026 bertajuk “Invest in Peace: Membangun Perdamaian Berkelanjutan Ditengah Dinamika Keamanan Global”, Selasa (29/9/2026), di Aula Lantai 8 Gedung Merah Putih, Salemba.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional UNHAN RI tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas upaya membangun perdamaian berkelanjutan di tengah dinamika keamanan global. Kegiatan dilaksanakan secara hybrid dan diikuti sekitar 200 peserta, terdiri atas 100 peserta secara luring dan 100 peserta secara daring, dengan keterlibatan peserta dari berbagai institusi, di antaranya Universitas Air Langga (Unair), Universitas Syiah Kuala (USK) dan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Dekan Fakultas Keamanan Nasional UNHAN RI, Mayjen TNI Dr. Nefra Firdaus, S.E., M.M., sebagai keynote speaker dalam Konferensi. Adapun narasumber adalah Dr. Julian Aldrin Pasha, M.A., Ph.D., Ketua IDH The Habibie Center; Andy Aron, S.H., LL.M., Direktur Hukum dan Perjanjian Kewilayahan Kementerian Luar Negeri RI; serta Marsma TNI Victor R.C.J. George, S.I.P., M.P.A.C.S., M.M.A., M.B.A., Direktur Pelatihan Pusat Pelatihan dan Pendidikan Perdamaian (PMPP) TNI. Diskusi dimoderatori oleh Dr. Margaretha Hanita, S., M.Si.
Dalam pembahasan mengenai demokrasi, masyarakat sipil, dan inklusivitas sebagai fondasi peacebuilding, Dr. Julian Aldrin Pasha menyoroti pentingnya membangun perdamaian tidak hanya melalui penghentian kekerasan, tetapi juga melalui penguatan institusi, masyarakat sipil, partisipasi warga, inklusivitas, dan kepercayaan.
Peacekeepingdan peacebuilding juga dibahas sebagai proses yang saling berkaitan. Peacekeeping berperan menciptakan ruang yang memungkinkan proses politik dan dialog berlangsung, sementara peacebuilding diarahkan pada pembangunan kondisi sosial dan politik yang dapat mencegah kekerasan kembali menjadi pilihan.
Dari perspektif diplomasi, Andy Aron membahas peran Indonesia dalam penyelesaian konflik internasional. Diplomasi ditempatkan sebagai instrumen untuk mengelola konflik, mulai dari pencegahan, dialog, negosiasi, dan mediasi hingga proses peacekeeping dan peacebuilding.
Pembahasan tersebut juga mengangkat prinsip politik luar negeri bebas aktif Indonesia serta peran Indonesia sebagai bridge-builder, norm-builder, dan peace contributor:dalam berbagai forum internasional. Hukum internasional menjadi salah satu kerangka dalam penyelesaian sengketa secara damai, sementara diplomasi menjadi instrumen untuk membuka ruang komunikasi dan penyelesaian konflik.
Sementara itu, Marsma TNI Victor R.C.J. George memberikan perspektif mengenai kontribusi TNI dalam misi perdamaian dunia. Pembahasan mencakup perkembangan operasi perdamaian dari pemantauan gencatan senjata menuju misi multidimensi yang mencakup perlindungan warga sipil, bantuan kemanusiaan, pembangunan kapasitas, serta dukungan terhadap pemulihan pascakonflik.
Keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian PBB juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai kontribusi pertahanan dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan perdamaian dibangun dan dipertahankan secara berkelanjutan.
Ketiga perspektif tersebut memperlihatkan bahwa *investasi perdamaian membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, *mulai dari institusi negara, pertahanan, diplomasi, akademisi, masyarakat sipil, hingga warga negara. Perdamaian tidak hanya berkaitan dengan respons ketika konflik terjadi, tetapi juga dengan upaya pencegahan, pembangunan kepercayaan, penguatan institusi, dialog, serta pengelolaan perbedaan secara damai.
Melalui konferensi International Day of Peace 2026, Program Studi Damai dan Resolusi Konflik UNHAN RI mempertemukan perspektif akademik, diplomasi, pertahanan, dan pemerintahan dalam satu ruang dialog. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman dan pertukaran gagasan mengenai pentingnya menempatkan perdamaian sebagai investasi jangka panjang dalam menghadapi dinamika keamanan global.
Sejalan dengan tema “Invest in Peace“, konferensi ini menegaskan pentingnya membangun perdamaian secara berkelanjutan-bukan hanya setelah konflik terjadi, tetapi sejak tahap pencegahan melalui penguatan dialog, kepercayaan, institusi, partisipasi, dan kapasitas untuk mengelola konflik secara damai.


