Tidak Harus Ikut Tren, Beranilah Memilih dengan Sadar
RBN || Jakarta
Setiap hari, linimasa media sosial menawarkan sesuatu yang baru untuk diikuti gaya berpakaian tertentu, cara makan tertentu, bahkan cara berbicara yang mendadak dianggap keren karena banyak dipakai orang. Ada dorongan halus yang membuat seseorang merasa harus ikut serta, seolah tertinggal jika tidak melakukannya. Padahal, tidak semua yang viral perlu diikuti, dan tidak semua pilihan orang lain cocok diterapkan begitu saja pada diri sendiri.
Keberanian untuk tidak ikut arus sebenarnya berakar pada satu hal sederhana, yaitu kejernihan berpikir. Sebelum mengikuti sebuah tren, menerima suatu tawaran, atau memberikan respons terhadap sesuatu, ada baiknya bertanya pada diri sendiri, apakah pilihan ini benar-benar sesuai dengan fakta yang ada, kebutuhan yang nyata, dan nilai yang diyakini, atau sekadar dorongan sesaat karena takut dianggap ketinggalan zaman.
Kejernihan berpikir semacam ini sering disebut sebagai sikap lucid, yakni kemampuan berpikir secara jernih, masuk akal, dan tidak mudah terbawa arus. Sikap ini bukan berarti seseorang harus terlihat paling kritis atau paling berbeda dari orang lain, melainkan kemampuan untuk memilah mana yang benar-benar penting bagi dirinya sendiri, terlepas dari apa yang sedang ramai dibicarakan.
Di tengah banjir informasi, komentar warganet, dan notifikasi yang datang tanpa jeda, kemampuan ini menjadi semakin penting. Satu unggahan viral atau satu potongan video singkat dapat membentuk opini dan keinginan seseorang sebelum ia sempat memikirkan apakah hal tersebut benar-benar relevan dengan hidupnya. Berhenti sejenak untuk bertanya, alih-alih langsung mengikuti, adalah langkah kecil yang bisa mencegah seseorang membuat keputusan yang kelak disesali.
Godaan mengikuti tren biasanya terasa paling kuat justru saat emosi sedang tidak stabil, misalnya ketika merasa cemas tertinggal, iri melihat pencapaian orang lain, atau sekadar bosan dengan rutinitas. Dalam kondisi seperti ini, seseorang cenderung mengambil keputusan secara impulsif tanpa benar-benar mempertimbangkan konsekuensinya. Mengambil jeda sebelum memutuskan, alih-alih langsung bertindak, memberi ruang untuk memahami perasaan sendiri dan memilih respons yang lebih matang.
Keberanian memilih dengan sadar juga erat kaitannya dengan cara seseorang berkomunikasi tentang pilihannya. Ketika seseorang memutuskan untuk tidak mengikuti tren tertentu, ia tidak perlu merasa harus membela diri secara berlebihan. Cukup sampaikan alasan secara jujur dan langsung, tanpa perlu menyerang mereka yang memilih arah berbeda. Filsuf bahasa Paul Grice pernah menekankan bahwa komunikasi yang baik mengutamakan kebenaran, kecukupan informasi, relevansi, dan kejelasan, bukan drama atau pembenaran yang berlebihan.
Prinsip memilih dengan sadar ini terasa manfaatnya di berbagai bidang kehidupan. Di lingkungan kampus, mahasiswa yang berani memilih topik atau jalur belajar sesuai minatnya sendiri, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang populer di antara teman sebaya, biasanya lebih konsisten menjalani prosesnya. Di tempat kerja, keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan matang, bukan sekadar mengikuti kebiasaan mayoritas, cenderung menghasilkan hasil yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Membangun kebiasaan memilih dengan sadar tidak memerlukan perubahan drastis. Ia bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti mengurangi distraksi saat menerima informasi baru, membaca sebuah topik sampai tuntas sebelum ikut menanggapi, menuliskan alasan di balik sebuah keputusan, mendengarkan sudut pandang yang berbeda, dan menghindari mengambil keputusan penting ketika tubuh dan pikiran sedang lelah.
Penting dipahami bahwa memilih dengan sadar bukan berarti menolak segala sesuatu yang sedang tren atau menjadi pribadi yang selalu berlawanan arus demi terlihat berbeda. Sikap ini lebih tepat dimaknai sebagai kemampuan mengelola dorongan sesaat agar tidak mengambil alih penilaian, sehingga seseorang tetap bisa menikmati hal-hal baru tanpa kehilangan arah hidupnya sendiri.
Pikiran yang jernih membuat seseorang lebih sulit terprovokasi oleh tekanan sosial, lebih mudah memahami dirinya sendiri, dan lebih percaya diri dalam menentukan pilihan hidup, meski pilihan tersebut berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh godaan untuk selalu mengikuti arus, keberanian memilih dengan sadar adalah bentuk kekuatan yang sering kali diremehkan, padahal justru itulah yang membuat seseorang tetap menjadi dirinya sendiri.


