The Fed Naikkan Suku Bunga Jadi 3,75%-4 Persen, Pertama Sejak 2023
RBN || New York
Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Keputusan tersebut menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023 dan diambil dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu, 16 September 2026 waktu Amerika Serikat atau Kamis, 17 September 2026 dini hari waktu Indonesia.
Keputusan kenaikan suku bunga tersebut disetujui secara bulat dengan suara 12-0. Tidak ada anggota FOMC yang menolak keputusan tersebut.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk mendukung mandat ganda Federal Reserve, terutama dalam menjaga stabilitas harga dan kondisi ekonomi.
“Dalam pertemuan tersebut, FOMC memutuskan untuk menaikkan kisaran target FFR menjadi 3,75%-4% untuk mendukung mandat ganda Federal Reserve,” ujar Warsh.
Kenaikan tersebut mengakhiri periode suku bunga yang sebelumnya bertahan di level 3,5%-3,75% sejak Desember 2025.
The Fed menilai aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih berkembang dengan solid. Belanja domestik tetap kuat, sementara produktivitas dan investasi modal juga dinilai masih baik. Pertumbuhan lapangan kerja disebut mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja.
Namun, inflasi masih menjadi perhatian utama. The Fed menilai kebijakan suku bunga diperlukan untuk mendorong inflasi kembali menuju target 2%.
Tekanan inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga energi. Dalam artikel tersebut disebutkan perang dengan Iran mendorong harga bahan bakar lebih tinggi. Harga minyak mentah Brent berada di sekitar US$109 per barel pada 15 September 2026, sedangkan harga bensin rata-rata di AS mencapai US$4,36 per galon.
Data inflasi Agustus 2026 juga menunjukkan indeks harga konsumen AS meningkat 0,4% secara bulanan, sementara inflasi tahunan berada di level 3,4%.
Kenaikan suku bunga tersebut berbeda dengan keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang selama berbulan-bulan mendorong agar suku bunga diturunkan. Trump sebelumnya menginginkan AS memiliki tingkat suku bunga terendah di dunia.
Kevin Warsh sendiri merupakan pilihan Trump untuk memimpin The Fed. Dalam proses menuju jabatan tersebut, Warsh sempat menyampaikan pandangan bahwa suku bunga dapat diturunkan.
Namun, kondisi inflasi membuat kebijakan moneter tetap diarahkan pada pengendalian harga. Dalam simposium Jackson Hole pada Agustus 2026, Warsh juga telah memberikan sinyal bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan untuk memastikan inflasi dasar bergerak menuju target secara memadai.
Dengan kondisi ekonomi yang masih dinilai solid tetapi inflasi tetap tinggi, The Fed kini menempatkan stabilitas harga sebagai salah satu fokus utama kebijakan, sementara ketidakpastian masih tinggi, termasuk akibat perkembangan geopolitik.
Sumber: ekonomi.bisnis


