Karya Penyandang Disabilitas di Bandung Dorong Kreativitas dan Kemandirian
RBN || Bandung
Karya penyandang disabilitas menjadi bagian penting dalam aktivitas Dama Kara, Kota Bandung, yang tidak hanya menampilkan beragam produk, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan. Hal tersebut terlihat saat Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial Fatma Saifullah Yusuf bersama Wakil Penasihat DWP Kemensos Intan Agus Jabo mengunjungi Dama Kara di Jalan Gandapura, Bandung, Selasa (13/10).
Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat berbagai produk seperti dompet, gantungan kunci, topi, aksesori, hingga busana dengan beragam motif. Di balik sejumlah karya itu terdapat keterlibatan penyandang disabilitas, salah satunya Handy (25), teman Tuli yang selama sekitar satu setengah tahun berkegiatan di Dama Kara dan memiliki ketertarikan menggambar batik.
Pengajar Handy, Gian, mengatakan karya tersebut mengangkat tema petani yang kemudian dipadukan dengan motif batik. “Kalau Handy sendiri, dia suka banget gambar batik. Kemudian, ini kita kasih tema petani. Nah, digabung antara batik dan petani,” tuturnya.
Fatma mengapresiasi karya Handy dan Sari (29) yang ditemuinya dalam kunjungan tersebut. Ia memberikan semangat kepada keduanya agar terus mengembangkan kreativitas melalui karya yang mereka hasilkan.
Pendiri Dama Kara, Damar, menjelaskan sebagian hasil penjualan produk digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan mereka. Selain melihat koleksi produk, rombongan juga dijadwalkan meninjau workshop dan kelas, termasuk mengikuti mini workshop melukis di atas air.
Kunjungan tersebut merupakan rangkaian kegiatan setelah Fatma dan jajaran mengikuti Sosialisasi Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2026 di Mandiri University, Bandung. Kegiatan itu mempertemukan DWP Kemensos dengan desainer dan pelaku usaha untuk membahas peluang pengembangan karya penyandang disabilitas.
Fatma menilai kolaborasi dapat membuka kesempatan lebih luas bagi karya tersebut untuk berkembang melalui eksplorasi desain dan perpaduan material. Menurutnya, lukisan dapat diolah menjadi produk bernilai, termasuk melalui kombinasi batik dan tenun untuk menghasilkan busana.
“ Ternyata lukisan itu diolah bisa menjadi sebuah karya, sebuah produk yang tidak kaleng-kaleng,” ujar Fatma.


