Harga Kebutuhan Naik, Demonstrasi Besar di Perancis Berujung Bentrokan
RBN || Paris
Demonstrasi nasional di Perancis pada Sabtu (17/10/2026) berujung bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi di Paris serta sejumlah kota lainnya. Aksi tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya hidup dan berlangsung menjelang pemilihan presiden Perancis.
Dikutip dari Kompas.com, Sabtu (17/10/2026), polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran di Paris. Kericuhan juga menyebabkan kaca kantor lembaga penyiaran CNews dan Europe 1 pecah akibat lemparan benda.
Kementerian Dalam Negeri Perancis mencatat lebih dari 32.000 orang mengikuti sekitar 140 demonstrasi di luar Paris hingga Sabtu siang. Sementara itu, lebih dari 160 orang ditangkap di berbagai wilayah, termasuk sekitar 60 orang di Paris pada Sabtu pagi.
Kericuhan juga terjadi di Marseille. Sejumlah demonstran bermasker menerobos balai kota setelah mendobrak pintu menggunakan barikade pengaman. Beberapa orang sempat memasuki gedung dan mencoret dinding dengan simbol anarkis sebelum polisi membubarkan massa. Di Rennes, sekitar 20 demonstran mendirikan barikade dari tempat sampah dan palet kayu di sekitar pusat perbelanjaan.
Aksi tersebut turut melibatkan kelompok Rompi Kuning (Yellow Vest), yang sebelumnya menggelar protes besar pada 2018 terkait kenaikan pajak bahan bakar. Kelompok ini mengajak pelajar, guru, pekerja, pensiunan, dan petani untuk bergabung dalam demonstrasi nasional.
Selain menyoroti kenaikan biaya hidup, para demonstran juga menyuarakan persoalan pendidikan dan dugaan kekerasan oleh aparat kepolisian. Seorang pelajar bernama Aude menyatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap minimnya sumber daya untuk sektor pendidikan serta kebrutalan polisi.
Demonstrasi ini menambah tekanan terhadap pemerintahan Presiden Emmanuel Macron di tengah meningkatnya ketegangan sosial menjelang pemilihan presiden Perancis.
Sumber: Kompas.com


