BRIN Perkuat Pengelolaan Limbah Radioaktif Nasional
RBN || Jakarta
Pengelolaan limbah radioaktif perlu dirancang sejak awal hingga tahap pembuangan akhir agar keselamatan tetap terjamin dan beban pengelolaan tidak diwariskan kepada generasi mendatang. Pendekatan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penguatan kapasitas nasional yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Periset Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Hendra Adhi Pratama, memaparkan pengalaman Indonesia dalam workshop internasional IAEA di Beishan Underground Research Laboratory, Jiuquan, Tiongkok, 12–16 Oktober 2026.
Menurut Hendra, keberadaan inventaris limbah nasional menjadi dasar penting untuk menentukan strategi pengelolaan. Data tersebut memuat jumlah, karakteristik, dan jenis limbah sehingga setiap kategori dapat ditangani berdasarkan tingkat bahayanya.
“Perencanaan pembuangan akhir perlu dipertimbangkan sejak awal agar keputusan pada tahap pengumpulan, pengolahan, dan penyimpanan tetap sesuai dengan opsi akhir yang akan dipilih,” ujar Hendra dalam wawancara daring dengan Humas BRIN, Senin (2/11).
Workshop yang diikuti sekitar 40 peserta dari tujuh negara anggota IAEA tersebut membahas pendekatan bertingkat (graded approach) untuk berbagai kategori limbah. Materinya mencakup limbah radioaktif sangat rendah, rendah, menengah, hingga tinggi serta keterkaitan setiap tahapan pengelolaannya.
Bagi Indonesia, pembelajaran tersebut dinilai relevan untuk memperkuat inventaris nasional, kapasitas sumber daya manusia, dan penyempurnaan regulasi. Hal ini juga berkaitan dengan rencana revisi Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif.
Peserta turut mengunjungi fasilitas Near Surface Disposal Facility dan fasilitas penelitian bawah tanah Beishan untuk melihat praktik pengelolaan limbah secara langsung. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi dalam mengembangkan strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan Indonesia.
Hendra berharap pengetahuan serta jejaring internasional yang diperoleh dapat memperkuat peran BRIN dalam menyediakan solusi terkait keselamatan nuklir, khususnya pengelolaan limbah radioaktif nasional.


