Sekali Salah Bisa Dimengerti, Terus Melanggar Perlu Dibatasi

RBN || Jakarta

Ban sepeda motor yang bocor satu kali di jalan tentu tidak membuat kita menyalahkan jalan itu seumur hidup. Kita menambalnya, lalu melanjutkan perjalanan. Tetapi bila ban bocor lagi di tempat yang sama, lagi, dan lagi, kita mulai bertanya, apakah ada paku yang belum dicabut, dan apakah jalan ini masih aman dilewati? Hubungan antarmanusia bekerja dengan cara serupa. Kita semua pernah terlambat, lupa membalas pesan, atau gagal memenuhi janji. Karena itu, satu kesalahan sebaiknya tidak langsung dijadikan alasan untuk mencap seseorang tidak bisa dipercaya. Yang lebih adil adalah melihat konteksnya. Apa yang terjadi? Bagaimana ia menjelaskannya? Apakah ia mau menuntaskan tanggung jawabnya setelah itu?

Kerangka BRAVING dari peneliti Brené Brown membantu kita melihat ini dengan lebih jernih. Salah satu unsurnya adalah akuntabilitas, yaitu kesediaan mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaikinya. Orang yang pernah keliru tetapi mau bertanggung jawab sebenarnya sedang memberi bukti bahwa ia layak dipercaya. Unsur lain dalam kerangka itu, yakni kemurahan hati dalam menafsirkan niat orang lain, juga mengingatkan kita agar tidak buru-buru menuduh. Namun, kemurahan hati punya batas. Bila kekeliruan yang sama terus terulang, apalagi disertai kebohongan, rahasia yang dibocorkan, atau sikap menolak bertanggung jawab, itu bukan lagi soal nasib buruk. Itu sebuah pola. Pada titik ini, memaklumi terus-menerus justru bisa membuat kita sendiri yang menanggung akibatnya.

Membatasi tidak sama dengan membenci. Kita tidak harus memutus hubungan atau membalas dengan kemarahan. Langkahnya bisa jauh lebih sederhana, misalnya mengurangi hal-hal yang kita ceritakan, tidak lagi menitipkan urusan penting, atau meminta kesepakatan dibuat lebih jelas. Di lingkungan kerja, ini bisa berupa pembagian tugas yang tegas, catatan hasil rapat, dan penggunaan saluran komunikasi resmi. Cara ini melindungi kedua pihak, sebab ketika ingatan tentang janji berbeda, ada pegangan yang bisa dirujuk bersama. Batas juga sebaiknya disampaikan dengan tenang. Kalimat seperti, “Saya masih mau membantu, tetapi untuk urusan ini saya perlu kepastian waktu,” lebih menolong daripada diam yang menyimpan kesal. Cara bicara yang jujur dan sopan memberi kesempatan bagi orang itu untuk memahami harapan kita. Bila ia menanggapinya dengan baik, hubungan mungkin akan jauh lebih sehat. Bila ia terus mendesak atau membuat kita merasa bersalah, kita jadi tahu seberapa jauh batas itu perlu dijaga.

Kita juga perlu waspada terhadap kebiasaan menyamakan semua orang dengan satu pengalaman buruk. Pernah dikecewakan tidak berarti semua orang baru akan mengecewakan. Beri ruang bagi hubungan untuk tumbuh pelan-pelan, sambil memastikan keterbukaan kita berjalan seiring dengan bukti nyata bahwa orang itu dapat diandalkan dan menghormati batas pribadi kita. Cobalah mengajukan dua pertanyaan sederhana saat seseorang mengecewakan kita. Pertama, apakah ini kejadian sekali saja atau sudah berulang? Kedua, bagaimana ia bersikap setelah ketahuan salah? Jawaban atas dua pertanyaan itu sering lebih berguna daripada seribu dugaan tentang niatnya.

Memberi kesempatan kedua adalah tanda hati yang lapang. Menjaga diri ketika kesempatan itu terus disia-siakan adalah tanda hati yang waras. Keduanya bisa berjalan bersamaan, dan keseimbangan itulah yang membuat kita tetap hangat tanpa mudah dimanfaatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *