Kebakaran Arjuno-Welirang Belum Tuntas, Sembilan Titik Api Masih Membara

RBN || Malang

Hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan Arjuno-Welirang, Jawa Timur, belum sepenuhnya menghentikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut. Meski seluruh titik api di Kabupaten Pasuruan, Mojokerto, dan Malang telah padam, petugas masih berupaya mengendalikan sembilan titik kebakaran di Kota Batu.

Sisa kebakaran kini terkonsentrasi di kawasan Kecamatan Bumiaji yang memiliki medan pegunungan cukup sulit dijangkau. Kondisi geografis yang terjal, hembusan angin kencang, serta keterbatasan sumber air menjadi tantangan dalam proses pemadaman.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo, Agustiningtyas Marini, menjelaskan bahwa sembilan titik api tersebut tersebar di dua desa. Tim gabungan terus melakukan penanganan agar kebakaran tidak merambat ke kawasan hutan lainnya.

“Tinggal sembilan titik, seluruhnya berada di Desa Sumbergondo dan Desa Bulukerto, Kota Batu,” kata Agustiningtyas, Sabtu (24/10/2026).

Sebelumnya, api sempat kembali muncul di Blok Gunung Limasan, lereng Gunung Welirang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Namun, upaya cepat petugas gabungan yang didukung hujan deras pada Kamis (22/10/2026) berhasil mengendalikan kebakaran di kawasan tersebut.

“Untuk wilayah Pasuruan, Mojokerto, dan Malang, Alhamdulillah seluruh titik api sudah padam sepenuhnya,” tambah Agustiningtyas.

Meski sebagian besar wilayah telah berhasil diamankan dari kobaran api, proses pemadaman di Kota Batu masih membutuhkan penanganan intensif. Ratusan personel gabungan dari Polisi Kehutanan, Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan relawan terus bekerja menjangkau lokasi kebakaran.

Sulitnya akses menuju titik api membuat petugas harus melewati jalur curam dan kawasan bertebing dengan risiko keselamatan yang cukup tinggi. Keterbatasan pasokan air di wilayah pegunungan juga mengharuskan tim melakukan pemadaman manual serta penyekatan untuk mencegah perluasan kebakaran.

Untuk mempercepat penanganan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter melalui operasi water bombing atau pemadaman dari udara. Dukungan tersebut difokuskan pada lokasi kebakaran yang sulit dijangkau oleh personel melalui jalur darat.

Selain pemadaman udara, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dilakukan melalui koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Upaya ini ditujukan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan yang dapat membantu proses pengendalian kebakaran.

Penanganan sembilan titik api di Kota Batu masih menjadi prioritas tim gabungan agar kebakaran tidak kembali meluas ke kawasan pegunungan lainnya. Pemantauan terus diperlukan meskipun api telah padam di sejumlah wilayah, mengingat kondisi angin dan medan dapat memengaruhi perkembangan kebakaran.

Sumber: Liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *