Jangan Habiskan Dirimu demi Selalu Ada untuk Orang Lain
RBN || Jakarta
Pukul sepuluh malam, ketika tubuh baru saja merebahkan diri setelah seharian penuh bekerja, ponsel kembali berbunyi. Seseorang membutuhkan tempat bercerita, dan tangan yang sudah lelah tetap terangkat untuk membalas pesan demi pesan. Menunda jawaban terasa seperti pengkhianatan kecil, seolah-olah menjadi orang baik berarti harus selalu siap sedia kapan pun dibutuhkan.
Anggapan semacam itu perlahan membuat seseorang mengambil tanggung jawab yang sebenarnya bukan sepenuhnya miliknya, mulai dari mendengarkan keluh kesah hingga merasa wajib menuntaskan masalah orang lain seperti masalah sendiri. Padahal kesediaan membantu seharusnya tetap berjalan bersama kesadaran bahwa waktu, tenaga, dan kemampuan setiap orang memiliki batasnya masing-masing.
Laporan Komisi Koneksi Sosial dari WHO tahun 2025 menegaskan betapa pentingnya keterhubungan sosial bagi kesejahteraan manusia, sekaligus menyoroti dampak nyata dari kesepian dan keterasingan sosial. Laporan ini mengingatkan bahwa hubungan yang sehat dibangun melalui perhatian yang bermakna dan dukungan yang bisa diandalkan, bukan sekadar kesediaan untuk selalu merespons dengan cepat.
Psikiater Robert Waldinger, yang memimpin Harvard Study of Adult Development, menjelaskan bahwa setiap orang sebenarnya hanya membutuhkan setidaknya satu hubungan yang kokoh untuk dijadikan sandaran ketika menghadapi masa sulit. Pandangan ini menegaskan bahwa kualitas kepercayaan jauh lebih penting dibandingkan seberapa sering seseorang bisa dihubungi, dan kepercayaan itu dibangun lewat kesediaan mendengarkan serta menepati janji sesuai kemampuan yang dimiliki.
Merawat kepercayaan sejatinya juga berarti berani berkata jujur ketika sedang lelah, membutuhkan waktu sendiri, atau belum sanggup memberi bantuan saat itu juga. Kejujuran semacam ini membantu orang lain memahami keadaan kita, sekaligus mencegah lahirnya janji yang sulit ditepati karena tenaga dan waktu memang sudah habis terpakai.
Batas pribadi tidak harus disampaikan dengan cara yang kaku atau terkesan menolak. Kabar singkat seperti memberi tahu bahwa percakapan akan dilanjutkan setelah pekerjaan selesai, atau setelah tubuh cukup beristirahat, sudah cukup memberi kejelasan kepada orang lain sekaligus menyediakan ruang bagi diri sendiri untuk menata pikiran dan memulihkan tenaga yang terkuras.
Hubungan yang benar-benar saling mendukung semestinya memberi tempat bagi setiap orang untuk membantu, meminta pertolongan, sekaligus mengambil jeda tanpa khawatir dianggap kurang peduli. Karena itu, ukuran ketulusan seharusnya tidak lagi dipatok dari seberapa sering seseorang mengorbankan kebutuhannya sendiri demi memenuhi seluruh harapan orang di sekitarnya.
Menjadi sosok yang selalu hadir bagi orang lain membutuhkan kepedulian yang juga diarahkan kepada diri sendiri, termasuk keberanian untuk mengakui rasa lelah dan menerima bantuan ketika memang dibutuhkan. Memberi diri sendiri ruang untuk bernapas membuat perhatian yang kita bagikan kepada orang lain tetap tulus, bukan sekadar kewajiban yang dijalankan sampai batas tenaga benar-benar habis.


