Warga Pertanyakan Efektivitas Teknologi Dry Ice Usai Palembang Kembali Diselimuti Kabut Asap
RBN || Palembang
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (20/10/2026) pagi, setelah sempat menipis dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran masyarakat sekaligus pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan teknologi dry ice dalam penanganan kabut asap.
Kemunculan kembali asap yang cukup tebal membuat warga mempertanyakan hasil berbagai upaya pengendalian karhutla yang telah dilakukan pemerintah. Masyarakat berharap pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca dapat memberikan dampak nyata terhadap perbaikan kualitas udara.
Salah seorang warga Palembang, Putri Wulandari, mengungkapkan bahwa kondisi udara pada Selasa pagi terlihat lebih buruk dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Ia menduga kebakaran lahan yang masih berlangsung di sejumlah lokasi turut menyebabkan kabut asap kembali menyelimuti kota.
“Kemarin sempat hilang, tetapi pagi ini kabut asap muncul lagi, bahkan cukup tebal. Mungkin pengaruhnya karena kebakaran lahan masih terjadi di beberapa lokasi,” ujar Putri, Selasa (20/10/2026).
Menurut Putri, penggunaan teknologi dry ice seharusnya mampu memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, terutama dalam mengurangi dampak pencemaran udara. Namun, kembalinya kabut asap membuat warga berharap adanya evaluasi terhadap langkah penanganan yang telah dilaksanakan.
Ia juga meminta Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memperkuat koordinasi dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Penanganan dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika kabut asap telah mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.
Selain memanfaatkan teknologi, langkah pencegahan kebakaran dan pemadaman langsung di wilayah terdampak juga dianggap penting untuk mengurangi sumber pencemaran. Upaya tersebut diharapkan dapat mencegah kebakaran meluas sekaligus menekan kemungkinan kabut asap kembali menyelimuti kawasan permukiman.
Meski demikian, kemunculan kembali kabut asap belum dapat dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan atau kegagalan teknologi dry ice tanpa evaluasi teknis lebih lanjut. Warga berharap pemerintah mengoptimalkan seluruh langkah penanganan agar kualitas udara Palembang dapat membaik secara berkelanjutan.
Sumber: Berita Satu


