Bandingkan Dirimu dengan Kemarin, Bukan dengan Orang Lain
RBN || Jakarta
Setiap kali membuka media sosial, seseorang dengan mudah melihat pencapaian orang lain: promosi jabatan, perjalanan ke tempat baru, pernikahan, atau bisnis yang berkembang pesat. Tanpa disadari, pikiran mulai menyusun perbandingan, dan hasil akhirnya sering kali membuat perjalanan sendiri terasa lebih lambat, kurang berarti, bahkan gagal, meski kenyataannya belum tentu demikian.
Psikolog Leon Festinger, lewat teorinya tentang perbandingan sosial, menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk menilai kemampuan dan pencapaiannya dengan cara membandingkan diri terhadap orang lain, terutama ketika tidak ada tolok ukur objektif yang jelas. Kecenderungan ini sebenarnya berfungsi membantu manusia memahami posisinya dalam kelompok sosial, namun di era digital, fungsi tersebut sering berubah menjadi sumber tekanan yang tidak proporsional.
Masalah utama dari perbandingan semacam ini terletak pada apa yang dibandingkan. Media sosial pada umumnya hanya menampilkan potongan hasil akhir yang sudah dipilih dan disunting sedemikian rupa, tanpa menunjukkan proses panjang, kegagalan berulang, keraguan, dan kerja keras yang menyertainya. Seseorang membandingkan babak awal perjalanannya sendiri dengan babak akhir kesuksesan orang lain, sebuah perbandingan yang secara struktural memang tidak setara sejak awal.
Festinger juga membedakan antara perbandingan ke atas, yaitu membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul, dan perbandingan ke bawah, yaitu membandingkan diri dengan orang yang dianggap berada dalam posisi lebih sulit. Perbandingan ke atas dapat memberi motivasi jika dilakukan secara sehat, misalnya untuk belajar dari cara orang lain mencapai sesuatu. Namun ketika dilakukan berlebihan dan tanpa konteks, perbandingan ke atas justru lebih sering menimbulkan rasa rendah diri dibandingkan dorongan untuk berkembang.
Alternatif yang lebih sehat dan sering diabaikan adalah perbandingan temporal, yaitu membandingkan diri sendiri hari ini dengan diri sendiri pada waktu sebelumnya. Perbandingan jenis ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki perbandingan sosial, karena titik acuannya adalah pengalaman, kesempatan, dan tantangan yang benar-benar dijalani sendiri, bukan gambaran permukaan dari kehidupan orang lain yang konteksnya sama sekali berbeda.
Menerapkan perbandingan temporal membutuhkan kebiasaan mencatat kemajuan kecil yang mudah terlewat jika hanya mengandalkan ingatan. Keterampilan apa yang bertambah dibandingkan setahun lalu? Situasi seperti apa yang dahulu terasa menakutkan namun kini bisa dihadapi dengan lebih tenang? Keputusan seperti apa yang kini diambil dengan pertimbangan lebih matang dibandingkan sebelumnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini memberi gambaran kemajuan yang lebih jujur, meski hasilnya jarang terlihat semencolok unggahan di media sosial.
Perbandingan dengan diri sendiri juga mengubah cara seseorang memaknai kecepatan. Dalam perbandingan sosial, kecepatan sering dinilai relatif terhadap orang lain, sehingga siapa pun yang bergerak lebih lambat dari standar tersebut mudah merasa tertinggal. Dalam perbandingan temporal, yang dinilai adalah arah, bukan kecepatan dibandingkan orang lain. Bergerak perlahan tetap dianggap sebagai kemajuan, selama arahnya konsisten menuju sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
Bukan berarti perbandingan sosial harus dihindari sepenuhnya. Melihat pencapaian orang lain kadang memberi gambaran tentang kemungkinan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Yang perlu dijaga adalah proporsinya, agar perbandingan tersebut menjadi sumber inspirasi, bukan sumber utama untuk menilai harga diri sendiri.
Kebiasaan ini juga membutuhkan kejujuran terhadap titik awal masing-masing orang. Dua orang yang tampak berada di jalur yang sama belum tentu memulai dari kondisi yang setara, baik dari segi dukungan keluarga, akses pendidikan, kondisi ekonomi, maupun kesempatan yang tersedia. Menyamaratakan seluruh perjalanan tanpa mempertimbangkan perbedaan titik awal ini sering kali menjadi sumber kekecewaan yang sebenarnya tidak proporsional.
Barangkali ukuran keberhasilan yang lebih layak dipegang bukan seberapa jauh seseorang tertinggal dari orang lain, melainkan seberapa jauh ia sudah bergerak dibandingkan dirinya sendiri di masa lalu, sebab perjalanan setiap orang memang tidak pernah benar-benar bisa disejajarkan satu sama lain.


