Virtual Run Hadirkan Cara Baru Berolahraga Fleksibel Melalui Teknologi Digital
RBN || Jakarta
Perkembangan teknologi menghadirkan cara baru bagi masyarakat untuk berolahraga melalui konsep virtual run. Ajang lari berbasis digital ini memungkinkan peserta mengikuti perlombaan dari lokasi berbeda dengan bantuan aplikasi.
Konsep tersebut diperkenalkan dalam Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 melalui booth Pocari Sweat yang menghadirkan Pocari Sweat Virtual Run. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 20 September 2026 dengan pilihan kategori 3K, 5K, 10K, dan Kids 3K.
Peserta dapat memilih paket pendaftaran sesuai kebutuhan. Pada kategori gratis, peserta memperoleh nomor dada atau bib serta sertifikat digital yang dikirim melalui email, sedangkan paket berbayar menyediakan perlengkapan tambahan seperti medali, jersey, dan jaket.
Salah satu pengunjung ISS 2026, Fani, tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena memiliki kegemaran berlari. Ia memilih kategori gratis setelah mengetahui informasi virtual run melalui media sosial Instagram.
“Saya emang suka lari. Saya daftar virtual run yang gratis aja tadi. Biasanya saya lari 5K atau 10K,” ujar Fani.
Berbeda dengan lomba lari konvensional yang mengharuskan peserta berada di satu lokasi, virtual run memberikan kebebasan menentukan tempat berlari. Meski lokasi berbeda, seluruh peserta tetap mengikuti waktu pelaksanaan yang sama dengan pencatatan aktivitas melalui aplikasi Gerak.
Peserta dapat melakukan aktivitas lari mulai pukul 02.00 hingga batas waktu atau cut off time (COT) pukul 13.00 pada 20 September 2026. Sistem digital memungkinkan jarak dan aktivitas peserta tetap tercatat selama mengikuti ketentuan yang berlaku.
Kehadiran virtual run menunjukkan bahwa olahraga terus berkembang mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat. Perpaduan aktivitas fisik dan teknologi memberikan pilihan baru bagi masyarakat untuk tetap aktif, fleksibel, dan memiliki pengalaman berolahraga yang lebih luas.
Melalui inovasi tersebut, olahraga tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu tertentu, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas yang lebih inklusif dengan dukungan teknologi digital.

