perbedaan

Bukan Perbedaan yang Merusak Hubungan, tetapi Cara Kita Memperlakukan

RBN || Jakarta

Bayangkan dua pasangan yang sama-sama berdebat soal keuangan rumah tangga. Pasangan pertama saling melempar kalimat tajam, mengungkit kesalahan lama, hingga akhirnya diam dalam kemarahan berhari-hari. Pasangan kedua juga berdebat, suara mereka bahkan sempat meninggi, tetapi keduanya tetap duduk berhadapan, saling mendengarkan alasan masing-masing, dan mengakhiri percakapan dengan kesepakatan baru. Topik perdebatannya sama persis. Yang membedakan hasilnya bukan seberapa besar perbedaan pendapat mereka, melainkan cara keduanya memperlakukan satu sama lain selama perbedaan itu berlangsung.

Kita sering keliru menempatkan perbedaan sebagai akar masalah dalam hubungan. Padahal, hampir semua hubungan yang bertahan lama justru diisi oleh dua orang yang tidak selalu sepaham. Suami istri bisa berbeda cara mengasuh anak. Sahabat bisa berbeda pilihan hidup. Rekan kerja bisa berbeda strategi menyelesaikan proyek. Perbedaan semacam itu adalah bagian wajar dari relasi antarmanusia, bukan tanda bahwa hubungan sedang bermasalah.

Yang sesungguhnya merusak bukan fakta bahwa dua orang berpikir berbeda, melainkan cara perbedaan itu disampaikan. Ada orang yang menyampaikan ketidaksetujuan dengan tetap menjaga martabat lawan bicaranya. Ada pula yang menjadikan momen perbedaan sebagai kesempatan untuk menyerang, mempermalukan, atau membuktikan diri lebih benar. Isi pembicaraan bisa sama, tetapi cara penyampaiannya menentukan apakah hubungan itu tumbuh semakin dekat atau justru retak.

Psikolog Marshall Rosenberg, pengembang pendekatan komunikasi nonkekerasan, pernah menekankan bahwa cara kita menyampaikan kebutuhan dan ketidaksetujuan jauh lebih menentukan hasil sebuah percakapan dibanding isi pesan itu sendiri. Menurutnya, kalimat yang berfokus pada penilaian terhadap orang lain, misalnya menuduh atau melabeli, cenderung memicu pertahanan diri dan memperlebar jarak. Sebaliknya, kalimat yang berfokus pada perasaan dan kebutuhan sendiri membuka ruang untuk dipahami tanpa harus menjatuhkan pihak lain.

Pandangan itu terasa relevan ketika kita mengingat percakapan-percakapan yang pernah membuat kita terluka. Biasanya bukan karena orang lain tidak setuju dengan kita, melainkan karena cara mereka menyampaikan ketidaksetujuan itu terasa merendahkan. Kalimat seperti terserah kamu saja, kayaknya percuma bicara sama kamu, atau kamu memang selalu begitu bukan sekadar mengungkapkan perbedaan pendapat, melainkan sudah menyerang keberadaan orang yang diajak bicara.

Cara memperlakukan orang lain saat berbeda pendapat juga terlihat dari hal-hal kecil yang mudah luput dari perhatian. Apakah seseorang masih menatap mata lawan bicaranya saat berdebat, atau justru sibuk dengan ponsel sambil menjawab seadanya. Apakah seseorang memberi ruang untuk menjelaskan alasan, atau langsung memotong sebelum kalimat selesai diucapkan. Apakah kekecewaan disampaikan secara langsung, atau justru dilampiaskan lewat sindiran di depan orang lain.

Ada pula pola yang sering tidak disadari, yaitu membawa perbedaan pendapat hari ini menjadi alasan untuk membuka kembali kesalahan-kesalahan lama. Perdebatan yang seharusnya membahas satu persoalan tunggal berubah menjadi daftar panjang kekecewaan bertahun-tahun. Cara memperlakukan yang seperti ini membuat pasangan atau kerabat merasa tidak pernah benar-benar dimaafkan, meski permintaan maaf sudah pernah diucapkan sebelumnya.

Sebaliknya, ada cara memperlakukan yang justru memperkuat hubungan meski perbedaan tidak kunjung selesai. Mengakui bahwa sudut pandang orang lain masuk akal, meski kita tetap memilih jalan yang berbeda. Memberi waktu ketika seseorang belum siap membahas sesuatu, alih-alih memaksakan penyelesaian saat itu juga. Menahan diri untuk tidak mengungkit topik sensitif di depan orang banyak, meski kita sedang kesal. Semua itu adalah bentuk penghormatan yang tidak menuntut kesepakatan, hanya menuntut kesediaan untuk tetap manusiawi.

Perlu digarisbawahi pula bahwa memperlakukan orang lain dengan baik tidak berarti selalu mengalah. Seseorang tetap bisa mempertahankan pendiriannya dengan tegas tanpa harus merendahkan orang yang tidak sependapat dengannya. Justru ketegasan yang disampaikan dengan cara yang menghargai cenderung lebih mudah diterima dibanding paksaan yang disertai nada merendahkan.

Hubungan yang bertahan lama, entah itu pernikahan, pertemanan, maupun relasi kerja, hampir selalu diisi oleh perbedaan yang tidak pernah benar-benar hilang. Yang membuatnya tetap utuh bukan karena kedua pihak berhasil menyamakan seluruh pandangan, melainkan karena mereka belajar cara memperlakukan satu sama lain ketika pandangan itu berbeda.

Perbedaan akan selalu ada selama dua manusia hidup berdampingan. Namun cara kita memperlakukan orang lain di tengah perbedaan itulah yang menentukan apakah hubungan akan tumbuh semakin dekat, atau justru perlahan runtuh oleh luka-luka kecil yang terus dibiarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *