Dikenal atau Dikenang, Ketika Sorotan Padam, dan Tak Harus Viral untuk Berarti

RBN || Jakarta

Ada dua cara seseorang bisa hadir dalam ingatan orang lain. Yang pertama adalah dikenal, sekadar diketahui namanya, wajahnya, atau kabar tentang dirinya. Yang kedua adalah dikenang, ditinggalkan bekas yang tetap terasa lama setelah kehadirannya berlalu. Banyak orang mengejar yang pertama, padahal yang benar-benar memberi rasa tenang biasanya justru yang kedua.

Psikolog Erik Erikson, yang meneliti tahap perkembangan manusia sepanjang hidup, menjelaskan bahwa pada usia dewasa tengah, manusia mulai menghadapi persoalan antara generativitas dan stagnasi. Generativitas berarti keinginan untuk memberi sesuatu yang bermanfaat bagi generasi berikutnya, entah lewat karya, ilmu, atau kepedulian terhadap orang lain. Seseorang yang berhasil melewati fase ini biasanya merasa hidupnya lebih bermakna, sebab ia tahu ada sesuatu yang akan tetap tinggal setelah dirinya tiada.

Dikenal cenderung berhenti pada permukaan. Ribuan orang bisa tahu nama kita tanpa pernah benar-benar terpengaruh oleh kehadiran kita. Dikenang berjalan lebih dalam. Seorang guru mungkin hanya dikenal oleh murid-muridnya sendiri, namun caranya mengajar bisa terus memengaruhi cara mereka berpikir puluhan tahun kemudian. Kita tidak bisa memaksa diri untuk dikenang, sebab itu adalah hasil, bukan tujuan yang bisa dikejar langsung.

Persoalan ini menjadi semakin rumit ketika kita hidup di zaman yang mengagungkan sorotan. Setiap orang yang pernah merasakan perhatian besar tahu satu hal, bahwa sorotan itu tidak pernah bertahan selamanya. Sebuah pencapaian yang ramai dibicarakan hari ini bisa terlupakan dalam hitungan minggu. Seseorang yang namanya sering disebut bisa tiba-tiba tidak lagi diperbincangkan, bukan karena ia berubah, melainkan karena perhatian orang memang selalu berpindah ke hal baru.

Psikolog klinis Donna Rockwell, yang banyak meneliti dampak psikologis dari ketenaran, menemukan bahwa banyak orang yang pernah menikmati sorotan besar justru mengalami kesulitan emosional setelah sorotan itu meredup. Ia menyebut fenomena ini terkait erat dengan identitas yang terlalu bergantung pada perhatian orang lain, sehingga ketika perhatian itu berkurang, muncul kekosongan yang terasa seperti kehilangan sebagian dari diri sendiri.

Kekosongan ini muncul karena sorotan sering disalahartikan sebagai bukti nilai diri. Selama banyak orang memperhatikan, seseorang merasa berharga. Begitu perhatian itu berhenti, ia mulai mempertanyakan apakah dirinya masih berarti, padahal nilai seseorang tidak pernah benar-benar berubah hanya karena jumlah orang yang memperhatikannya berkurang. Orang yang mampu menjalani hidup dengan tenang setelah sorotan meredup biasanya adalah mereka yang sejak awal memiliki sumber kepuasan lain, seperti hubungan dekat dengan keluarga, kebiasaan yang mereka nikmati sendiri, atau pekerjaan yang tetap terasa bermakna meski tidak lagi banyak dibicarakan orang.

Di sinilah letak jawabannya, bahwa tidak semua hal yang bermakna perlu ditonton banyak orang. Seorang ibu yang bangun setiap pagi menyiapkan bekal anaknya tidak pernah viral, tetapi kebiasaan itu membentuk kenangan yang akan dibawa anaknya seumur hidup. Seorang petugas kebersihan yang bekerja sebelum matahari terbit tidak pernah muncul di linimasa, tetapi jalan yang bersih setiap pagi adalah hasil kerjanya yang nyata dan dirasakan banyak orang.

Psikolog Martin Seligman, yang mengembangkan kerangka kesejahteraan psikologis dikenal dengan sebutan PERMA, menempatkan makna sebagai salah satu unsur penting dalam hidup yang bahagia, sejajar dengan emosi positif, keterlibatan, hubungan, dan pencapaian. Menurutnya, rasa bermakna muncul ketika seseorang merasa hidupnya melayani sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, bukan dari seberapa banyak orang menyaksikan apa yang ia lakukan.

Budaya digital sering membuat kita lupa bahwa dampak tidak selalu sebanding dengan jangkauan. Sebuah unggahan bisa ditonton jutaan kali tanpa benar-benar mengubah apa pun dalam kehidupan penontonnya. Sebaliknya, satu percakapan yang tulus dengan satu orang bisa mengubah cara orang itu memandang hidupnya, meski tidak ada satu pun yang menyaksikan percakapan tersebut. Mengejar viralitas sering membuat seseorang memilih hal-hal yang mudah menarik perhatian, bukan hal-hal yang benar-benar penting, padahal banyak pekerjaan paling berarti dalam hidup justru terjadi diam-diam, di ruang yang tidak pernah disorot kamera.

Tiga hal ini, dikenal atau dikenang, sorotan yang meredup, dan keberartian yang tidak perlu viral, sebenarnya berbicara tentang satu persoalan yang sama, yaitu ke mana kita menaruh sumber rasa berharga dalam diri kita. Jika sumber itu digantungkan pada seberapa banyak orang memperhatikan, rasa berharga itu akan selalu goyah, sebab perhatian orang lain memang tidak pernah tetap. Namun jika sumber itu digantungkan pada seberapa dalam kehadiran kita dirasakan oleh orang-orang di sekitar, dan seberapa konsisten kita memberi sesuatu yang berarti, rasa berharga itu akan jauh lebih tahan lama, bahkan ketika sorotan sudah lama berpindah ke tempat lain.

Pertanyaan yang lebih layak direnungkan bukan seberapa banyak orang mengenal kita hari ini, melainkan apa yang ingin ditinggalkan ketika suatu saat kita sudah tidak ada. Jawabannya tidak harus besar. Bisa sesederhana anak yang tumbuh merasa dicintai, rekan kerja yang merasa dihargai, atau satu orang yang pernah kita tolong di saat sulit. Hal-hal kecil semacam itu, jika dilakukan dengan tulus dan konsisten, sering bertahan jauh lebih lama dibanding nama yang hanya sempat populer sesaat, sebab berkarya dan berbuat baik tetap layak dilakukan, bahkan ketika tidak ada satu pun yang sedang menyaksikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *