Saat Rasa ‘Tidak Suka’ Membuat Kita Menolak Fakta

RBN || Jakarta

Begitu seseorang sudah telanjur tidak disukai, hampir semua tindakannya mudah ditafsirkan ke arah yang buruk. Sapaan yang biasa saja dianggap basa-basi, bantuan yang diberikan dicurigai punya maksud tersembunyi, sementara kesalahan kecil langsung dijadikan bukti bahwa dugaan buruk selama ini memang benar adanya.

Sebaliknya, ketika seseorang sudah dipercaya dan disukai, kesalahan yang sama bisa dengan mudah dimaafkan atau bahkan tidak dianggap sebagai masalah sama sekali. Rasa suka dan tidak suka, tanpa disadari, diam-diam ikut menentukan bagaimana sebuah fakta akan ditafsirkan, bukan hanya apakah fakta itu benar atau salah.

Kecenderungan ini dikenal dengan istilah bias konfirmasi, yaitu kecenderungan seseorang untuk mencari dan menafsirkan bukti agar sesuai dengan keyakinan yang sudah lebih dulu ia miliki. Psikolog Raymond S. Nickerson menjelaskan bahwa pola pikir inilah yang membantu menerangkan mengapa cerita buruk tentang orang yang tidak disukai begitu mudah dipercaya, sementara informasi yang sebenarnya membantah cerita tersebut justru cenderung diabaikan begitu saja.

Dalam kondisi semacam ini, tindakan yang sebenarnya biasa saja bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang mencurigakan, dan penjelasan yang diberikan justru dianggap sekadar alasan untuk menghindari tanggung jawab. Semakin kuat rasa tidak suka yang sudah tertanam, semakin sulit pula fakta baru diterima apa adanya tanpa disaring lebih dulu oleh prasangka.

Agar tidak terus terjebak dalam pola pikir seperti ini, penilaian terhadap seseorang perlu dibangun di atas informasi yang benar-benar teruji, bukan sekadar kesan atau cerita yang terlanjur melekat. Keterbukaan untuk mengubah pendapat ketika bukti menunjukkan arah yang berbeda juga sama pentingnya, sebab mempertahankan pendapat lama meski fakta sudah berubah hanya akan memperpanjang kekeliruan.

Semangat ini sejalan dengan prinsip yang terdapat dalam Kode Etik Jurnalistik, yang menekankan pentingnya menguji kebenaran informasi, menjaga keberimbangan, serta memisahkan fakta dari opini yang bersifat menghakimi. Prinsip ini sebenarnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara sederhana, yaitu memeriksa dari mana sebuah informasi berasal dan meminta klarifikasi secara pantas sebelum ikut menyebarkan tuduhan kepada orang lain.

Pemeriksaan fakta tetap perlu dilakukan dengan menghormati keselamatan dan kondisi pihak yang melaporkan sebuah perlakuan buruk. Memberi ruang bagi penjelasan tidak selalu harus dilakukan melalui pertemuan langsung, terutama jika pertemuan semacam itu berpotensi menambah tekanan bagi pihak yang merasa dirugikan.

Nama baik seseorang dapat tercoreng hanya karena satu cerita sepihak diterima begitu saja sebagai kebenaran tanpa pernah diperiksa ulang. Di lingkungan pertemanan, tempat kerja, maupun grup percakapan digital, kesalahpahaman semacam ini berisiko berubah menjadi pengucilan yang sebenarnya tidak perlu terjadi, seandainya saja ada kesediaan untuk memeriksa fakta lebih dulu.

Bersikap adil membutuhkan keberanian untuk menahan diri dari kabar yang belum terverifikasi, bahkan ketika kabar itu datang dari orang yang paling dekat dan dipercaya. Rasa tidak suka boleh saja muncul sebagai perasaan yang wajar, tetapi perasaan itu tidak seharusnya diberi kuasa untuk menentukan kebenaran, sebab martabat seseorang terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya karena prasangka yang belum teruji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *