Aku Kuat Bukan Berarti Aku Tidak Rapuh
RBN || Jakarta
Ada anggapan keliru yang sering tertanam sejak kecil, bahwa kuat dan rapuh adalah dua hal yang tidak bisa berdiri bersamaan. Seolah begitu seseorang mengaku rapuh, ia langsung kehilangan predikat kuat yang selama ini melekat padanya. Padahal keduanya bisa hadir dalam waktu yang sama, dalam diri orang yang sama, bahkan dalam satu hari yang sama.
Psikolog Steven Hayes, yang mengembangkan pendekatan terapi yang dikenal sebagai Acceptance and Commitment Therapy, menjelaskan bahwa kesehatan psikologis seseorang tidak diukur dari ketiadaan emosi sulit, melainkan dari kemampuan menerima emosi tersebut sambil tetap bergerak sesuai dengan nilai yang dipegang. Ia menyebut kemampuan ini sebagai kelenturan psikologis, yaitu kesanggupan merasakan sesuatu yang berat tanpa harus berhenti melangkah karenanya.
Kelenturan semacam ini terlihat pada seseorang yang menangis semalaman karena kehilangan seseorang yang disayangi, lalu keesokan paginya tetap bangun dan menjalankan tanggung jawabnya. Ia tidak sedang berpura-pura baik-baik saja, dan ia juga tidak sedang lemah karena masih berduka. Ia sedang membawa dua hal sekaligus, luka yang nyata dan langkah yang tetap harus diayunkan.
Banyak orang keliru mengira kekuatan berarti tidak pernah goyah. Padahal semua orang, sekuat apa pun terlihat dari luar, punya titik rapuhnya masing-masing. Yang membedakan bukan ada atau tidaknya kerapuhan itu, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan kerapuhannya sendiri, apakah ia menyangkalnya sampai lupa caranya beristirahat, atau mengakuinya sambil tetap mencari cara untuk terus berjalan.
Kebiasaan menyangkal kerapuhan sering dimulai dari niat baik. Seseorang tidak ingin merepotkan orang lain, tidak ingin dianggap lemah, atau merasa harus menjadi sandaran bagi banyak orang di sekitarnya. Lama kelamaan, kebiasaan menyembunyikan kerapuhan ini justru membuatnya semakin sulit dikenali, bahkan oleh dirinya sendiri, sampai suatu titik semuanya terasa terlalu berat untuk terus ditahan sendirian.
Mengakui kerapuhan sebenarnya membutuhkan keberanian yang tidak kalah besar dibanding menahan diri untuk terlihat kuat. Berkata bahwa hari ini terasa berat, bahwa air mata sedang sulit ditahan, atau bahwa tenaga sudah hampir habis, bukan tanda kekalahan. Kalimat semacam itu justru menunjukkan kejujuran terhadap diri sendiri, sesuatu yang jauh lebih sulit dilakukan dibanding sekadar tersenyum dan berkata semuanya baik-baik saja.
Kekuatan yang sesungguhnya tidak dibangun dari usaha menutupi kerapuhan, melainkan dari kesanggupan menghadapinya tanpa harus dikalahkan olehnya. Seseorang bisa merasa takut sekaligus tetap melangkah, merasa sedih sekaligus tetap tersenyum pada momen yang memang layak disyukuri, merasa lelah sekaligus tetap memilih bangun keesokan harinya. Dua kondisi ini tidak saling meniadakan, melainkan berjalan berdampingan sepanjang hidup manusia.
Cara kita memandang kerapuhan orang lain juga perlu diperbaiki. Ketika seseorang berani bercerita tentang kesulitannya, respons yang paling dibutuhkan bukan nasihat agar segera terlihat kuat kembali, melainkan pengakuan bahwa perasaannya wajar dan pantas didengarkan. Memberi ruang bagi kerapuhan orang lain, tanpa terburu-buru memperbaikinya, sering menjadi bentuk dukungan yang jauh lebih berarti.
Belajar menerima kerapuhan diri sendiri juga berarti berhenti menuntut diri untuk selalu tampil sempurna di hadapan orang lain. Ada hari-hari yang memang terasa lebih berat, dan itu bukan tanda kegagalan menjalani hidup. Yang penting dijaga bukan seberapa jarang seseorang merasa rapuh, melainkan apakah ia tetap memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk pulih, tanpa harus menyalahkan diri karena butuh waktu lebih lama dari yang diharapkan.
Menjadi kuat tidak pernah berarti kebal terhadap rasa sakit. Kekuatan yang sejati justru terlihat dari keberanian mengakui bahwa ada bagian dari diri yang sedang rapuh, sambil tetap memilih untuk tidak menyerah sepenuhnya. Kuat dan rapuh bukan dua sisi yang berlawanan, melainkan dua bagian yang sama-sama membentuk seseorang menjadi manusia yang utuh.
